Orang mungkin sudah banyak mengenal nata de coco sebagai penganan hasil fermentasi air kelapa. Namun, belum banyak yang mengenal nata de cassava, yaitu kudapan yang dibuat dengan memanfaatkan limbah cair dari proses produksi tepung tapioka.
Nata de cassava menjadi salah satu contoh pemanfaatan hasil samping industri tapioka menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Selain limbah cair, limbah padat tapioka yang dikenal sebagai onggok juga telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Pemanfaatan limbah menjadi produk baru seperti nata de cassava menunjukkan bahwa industri pengolahan singkong tidak hanya menghasilkan tepung tapioka. Dengan pengolahan lebih lanjut, bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat memiliki nilai tambah dan menjadi peluang usaha.
Apa Itu Nata de Cassava?
Pernahkah Anda mencicipi nata de cassava? Dari namanya, kita dapat mengetahui bahwa produk ini berkaitan dengan cassava atau singkong. Secara tampilan, nata de cassava memiliki bentuk dan tekstur yang mirip dengan nata de coco.
Nata de cassava berwarna putih dan memiliki tekstur kenyal. Perbedaannya terletak pada bahan yang digunakan. Nata de coco dibuat melalui fermentasi air kelapa, sedangkan nata de cassava dalam artikel ini dibuat dari air perasan sisa produksi tepung tapioka.
Artikel sumber menyebutkan bahwa proses fermentasi tersebut menggunakan mikroba Acetobacter xylinum. Hasil fermentasi kemudian membentuk nata yang dapat diolah lebih lanjut menjadi kudapan.
Karena berasal dari bahan baku singkong, nata de cassava juga memiliki karakter rasa yang berbeda dari nata de coco. Artikel sumber menyebut adanya cita rasa singkong pada produk tersebut.

