Segudang Manfaat Singkong

Singkong/ Ubi Kayu / ketela (Tapioca/Cassava) terlanjur mendapat predikat “kampungan” , “rendahan” , “makanan kelas bawah”. Bahkan namanya identik dengan lawan kata “keju”. Benarkah memang demikian keberadaan Singkong/Ubi Kayu/Ketela ini di mata kita ? Ironis memang kalau keberadaannya yang sudah terlalu akrab bagi telinga, mata dan lidah kita ternyata menyimpan segudang manfaat-lanjutan yang belum kebanyakan dari kita mengetahuinya.

Cukuplah daftar derivatif singkong / ubi kayu / ketala ini sebagai sumber informasi yang terlewat tersebut :

1.Sorbitol
2.Modified Tapioca Flour
3.Sorbitol Powder
4.Maltitol
5.Glucose/Maltose Syrup
6.Maltodextrine & Dried Glucose Syrup
7.Dextrose Monohydrate

(more…)

Singkong

Singkong, yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_kayu)

Deskripsi

ketelaMemiliki nama latin manihot utilissima. Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin.

Sejarah dan pengaruh ekonomi

Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas M. esculenta dapat dibudidayakan.

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil. (more…)

TEPUNG TAPIOKA di Pati

TEPUNG TAPIOKA

Tepung Tapioka di Pati  merupakan hasil dari  umbi singkong yang banyak tumbuh di Indonesia. Tepung tapioka salah satu produk olahan dari umbi singkong yang menjadi upaya meningkatkan nilai umbi singkong itu sendiri . Selain dari sumber umbi , Produksi serealia terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian cukup tinggi.

Tepung tapioka jemur

Tapioka All Products

Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan serealia dan umbi-umbian sebagai sumber energi pun terus meningkat. Tanaman dengan kadar karbohidrat tinggi seperti halnya serealia dan umbi-umbian pada umumnya tahan terhadap suhu tinggi. Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar, rebusan atau kukusan, hal ini tergantung dari selera.

Usaha penganekaragaman pangan sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbi-umbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama disimpan.

Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras. Ubi kayu atau singkong (manihot ) merupakan salah satu bahan makanan sumber karbohidrat (sumber energi). Dan salah satu olahan umbi singkong yang paling menjanjikan adalah produksi tepung tapioka di pati salah satunya yang telah dikembangkan .

Tabel 1. Komposisi Ubi Kayu (per 100 gram bahan)
KOMPONEN KADAR
Kalori 146,00 kal
Air 62,50 gram
Phosphor 40,00 mg
Karbohidrat 34,00 gram
Kalsium 33,00 mg
Vitamin C 30,00 mg
Protein 1,20 gram
Besi 0,70 mg
Lemak 0,30 gram
Vitamin B1 0,06 mg
Berat dapat dimakan 75,00

Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik singkong dan lain-lain. (more…)

Pembuatan Tapioka Sederhana

Pengeringan Tapioka Sederhana1. PENDAHULUAN
Tapioka adalah tepung pati ubi kayu (singkong,ketela atau cassava). Produk ini digunakan untuk pengolahan makanan, pakan, kosmetika, industri kimia dan pengolahan kayu. Ubi kayu dapat diolah menjadi tapioka dengan cara sederhana menggunakan alat-alat yang biasa terdapat di dapur rumah tangga. Untuk industri kecil, pengolahan sudah memerlukan alat-alat mekanis untuk mempertinggi efisiensi hasil dan biaya. Alat-alat tersebut dapat dibuat di bengkel konstruksi biasa dengan menggunakan bahan-bahan lokal. Untuk industri menengah dan besar, pengolahan memerlukan alat-alat moderen yang bekerja secara efisien dengan kapasitas besar. (more…)

Kantong Plastik Tapioka Ramah Lingkungan

Isu lingkungan kini semakin ramai diperbincangkan masyarakat dunia. Jika dulunya kepedulian terhadap lingkungan dianggap sebagai kegiatan yang membuang-buang biaya, kini maraknya global warming membuat ecopreneur atau green industri dijadikan sebagai salah satu peluang bisnis yang memiliki nilai jual cukup menarik di mata para konsumen. Sekarang ini setiap orang mulai peduli terhadap pemanasan global dan menghindari produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Sehingga wajar adanya bila saat ini produk yang ramah lingkungan memiliki daya saing yang cukup tinggi dan diminati pasar lokal maupun internasional.

Salah satu terobosan baru yang berhasil diciptakan anak bangsa yaitu kantong plastik tapioka ramah lingkungan. Melihat ancaman sampah kantong plastik yang semakin membahayakan lingkungan, PT. Tirta Marta mengangkat permasalahan tersebut sebagai peluang usaha baru yang diyakininya memiliki prospek bisnis sangat besar. Setelah berhasil menciptakan produk oxium (sejenis aditif yang bisa mengurai sampah plastik dalam kurun waktu 2 tahun),  kini PT. Tirta Marta kembali meluncurkan produk baru yang tidak kalah inovatif, yaitu ecoplas (kantong plastik dari tepung tapioka). Tapioka menghasilkan ampas yang juga bisa dimanfaatkan yang disebut onggok. (more…)

Nata de Cassava dari Limbah Tapioka

Orang mungkin sudah banyak mengenal nata de coco sebagai penganan hasil fermentasi air kelapa. Tapi, belum banyak yang mengenal nata de cassava. Kudapan baru hasil olahan limbah pembuatan tepung tapioka ini kini makin banyak diminati. Peluang usahanya pun kini terbuka. Limbah tapioka padat disebut onggok juga sudah lebih dahulu bisa dimanfaatkan.

Pernahkah Anda mencicipi nata de cassava? Jangan-jangan baru kali ini nama ini hadir di telinga Anda. Ya, dari namanya jelas bisa ditebak kalau penganan ini berbahan dasar singkong.

Bentuk dan tekstur nata de cassava mirip nata de coco.  Putih dan kenyal. Hanya saja ada perbedaannya. Selain rasa nata de cassava yang berasa singkong, penganan ini dibuat dari hasil fermentasi air perasan sisa produksi tepung tapioka dengan mikroba acetobacter xylinum. Sementara nata de coco dibuat dari fermentasi air kelapa. (more…)

Bio Ethanol for automobile fuel

bensin hijauEthanol has powered automobiles for more than a century. Ford designed his model T for ethanol as a fuel. Gradually petroleum took over and became the dominating transport fuel. In the seventies Brazil adopted an ethanol strategy and today motor fuel grade ethanol (MFGE) is an extremely fast growing market worldwide.

Bioethanol is renewable, because it is made from glucose created in green plants by the sun, the so called photosynthesis:

(1) 6CO2 + 6H2O + sunshine ? C6H12O6 + 6O2
Sun energy transforms carbon dioxide (CO2) into glucose (C6H12O6). This glucose is transformed once again to ethanol (C2H6O) by classic yeast fermentation:
(2) C6H12O6 ? 2C2H6O + 2CO2 + heat
Heat is released calling for cooling of the fermentation vessels and heat is released again when the ethanol is burned in the combustion engine:
(3) C2H6O + 3O2 ? 2CO2 + 3H2O + heat (more…)

Collaboration on cassava-based ethanol

Thailand has teamed up with neighbouring countries to develop ethanol from fresh cassava, aiming to turn the kingdom into a regional technology and production centre for cassava-based renewable fuel.

Under a programme called South-South Technology Transfer: Ethanol Production from Cassava, which is funded by the Global Environmental Facility (GIF), Thailand will be a focal point in forging cooperation with Vietnam, Laos, and Burma.

The four-year project, which will be launched next year, includes two pilot ethanol plants to be built in Thailand and Vietnam. The facilities could be developed for commercial-scale production in the next phase through a partnership with interested investors and banks. (more…)

Tapioca flour and exports growth areas

cassava balance sheetThe Thai tapioca industry will focus on flour exports and Asian markets as part of its growth strategy over the next five years, when the exports of tapioca products could reach 100 billion baht.

The Commerce Ministry projected that by 2016, domestic demand for cassava roots in ethanol production will surge to 13 million tonnes, while exports could top 22.5 million tonnes, totalling 35.5 million tonnes, up 42% from the current production levels.

Speaking at the World Tapioca Conference 2011, Yanyong Phuangrach, the ministry’s permanent secretary, said Thailand should focus more on exporting tapioca flour to substitute for a reduction in the export of tapioca chips and pellets.

The proportion of flour exports is expected to rise to 65% from 51% now, with chips and pellets making up the rest.

Mr Yanyong said the country should build a good image and accept the standards of its tapioca flour and other products to create confidence among importers, buyers and local consumers. (more…)