'

Onggok untuk Bahan Pakan

Sep 28, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  1 Comment

onggok tapiokaPoultryindonesia.com, Riset. Seperti diketahui bersama, untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku pakan ternak, masih banyak yang harus kita impor, terutama sumber protein dan vitamin seperti bungkil kedele dan tepung ikan.

Sementara bahan baku lokal yang tersedia biasanya berupa hasil ikutan agroindustri, misalnya dedak padi, ampas sagu, onggok, ampas kelapa sawit dan lain-lain. Namun pada umumnya bahan baku lokal tersebut kandungan proteinnya rendah, sementara kandungan serat kasarnya tinggi sehingga sukar dicerna terutama oleh hewan berlambung tunggal (monogastrik) seperti unggas. Karenanya, penggunaanya sebagai bahan baku pakan sangat terbatas.

Untuk mengatasi masalah ini, Supriyati, D. Zaenudin, I.P Kompiang dari Balai Penelitian Ternak, Bogor serta Soekamto dan D. Abdurachman dari Dinas Peternakan Garut telah melakukan riset guna meningkatkan nilai gizi bahan baku lokal dengan proses fermentasi padat.

Bahan baku yang digunakan pada riset ini adalah onggok yang merupakan limbah atau hasil samping produksi tapioka. Dalam produksi tapioka, dari setiap ton ubi kayu dihasilkan 250 kg tapioka dan 114 kg onggok. Ketersediaan onggok pun terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka dan semakin luasnya areal penanaman dan produksi ubi kayu.

Fermentasi dilakukan dengan media onggok, dimana untuk setiap kilogramnya ditambahkan campuran mineral yang terdiri dari urea, MgSO4, ZA, KCl, NaH2PO4, FeSO4 dan serbuk spora Aspergillus niger sebanyak 1 sendok (6-9 gram) serta penambahan air panas untuk memperoleh kadar air sebesar 60%. Adonan ini kemudian difermentasikan selama 3-4 hari dan dipanen setelah permukaannya ditumbuhi misellium jamur untuk kemudian dikeringkan dan digiling. Onggok hasil fermentasi ini kemudian  dicampurkan pada ransum ayam perlakuan.

 

Riset dilakukan pada ayam kampung bulu hitam (dominan jenis Kedu hitam namun dagingnya putih) dan ayam kampung bulu kuning (hasil silangan antara ayam jantan jenis Dekalb dan ayam kampung betina) umur 1 hari sebanyak 240 ekor. Ayam-ayam tersebut dibagi dalam 4 kelompok perlakuan berdasarkan komposisi pakan yang diberikan, yakni : ayam hitam tanpa onggok terfermentasi (Grup A), ayam hitam dengan onggok terfermentasi (Grup B), ayam kuning tanpa onggok terfermentasi (Grup C) dan ayam kuning dengan onggok terfermentasi (grup D).

 

Dari hasil analisis kimia, ternyata onggok yang difermentasi memiliki kandungan protein kasar yang tinggi, meningkat dari 1,85% pada onggok yang tanpa fermentasi menjadi 14,74%. Hal ini menunjukkan bahwa proses fermentasi semi padat dapat meningkatkan protein kasar onggok. Peningkatan protein dikarenakan adanya proses perubahan N (nitrogen) anorganik dalam bentuk urea maupun amoniumsulfat (ZA) oleh Aspergillus niger menjadi N organik (protein). Demikian pula kandungan abu, Ca dan P pada produk onggok terfermentasi lebih tinggi dari onggoknya, sedang kandungan serat kasar dan lemak untuk kedua ransum tidak berbeda nyata. Namun bila dilihat dari nilai energi-nya ternyata perlakuan onggok terfermentasi dan tanpa fermentasi tidaklah berbeda jauh, yakni 3926 vs 3945 (kkal/kg).

 

Sementara dari hasil analisis statistik pada umur 8 minggu terdapat perbedaaan barat badan yang nyata. Rataan berat badan ayam warna hitam dan kuning yang memperoleh pakan dengan onggok terfermentasi masing-masing adalah 625 dan 640 gram.

 

Angka tersebut lebih tinggi dibanding ayam-ayam yang memperoleh pakan onggok tanpa fermentasi, yaitu 560 dan 587 gram. Saat ayam berumur 84 hari pun ternyata bobot ayam bulu hitam yang diberi onggok terfermentasi (Grup B) mencampai rataan bobot hidup lebih tinggi yakni sebesar 967 gram dibandingkan yang tanpa perlakuan onggok terfermentasi (Grup A) yaitu 809 gram. Demikian pula pada ayam berbulu kuning, terjadi peningkatan bobot hidup pada perlakuan tanpa onggok terfermentasi (Grup C) dibanding dengan penambahan onggok terfermentasi (Grup D), yaitu dari 725 gram meningkat menjadi 852 gram.

 

Untuk bobot hidup awal, ayam berbulu hitam pada umur yang sama yakni 7 hari antara ayam dengan ransum onggok terfermentasi dan tanpa fermentasi tidak berbeda nyata. Sedang untuk ayam berbulu kuning bobot awalnya lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ayam kuning berbobot hidup lebih besar dan lebih cepat tumbuh pada periode 1 minggu sampai 1 bulan. Namun setelah 12 minggu, ternyata pertambahan bobot hidup yang paling tinggi diperoleh pada Grup B (920 gram), diikuti oleh Grup D (789 gram), Grup A (762 gram) dan Grup C (670 gram).

 

Dilihat dari konsumsi ransum selama 12 minggu pengamatan, terlihat yang terendah adalah Grup B (3076 g/ekor), diikuti Grup D (3228 g/ekor), sementara Grup C (3227 g/ekor) dan Grup A (3401 g/ekor). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa ayam hitam memberikan respon yang nyata terhadap ransum, dengan perbedaan jumlah pakan yang dikonsumsi antara kelompok yang diberi pakan tanpa onggok terfermentasi dengan yang diberi onggok terfermentasi sebesar 325 gram.

 

Sedang dari hasil pengkajian ekonomi ternyata efisiensi pakan yang diperoleh dengan penggunaan onggok terfermentasi lebih baik, dimana untuk 1 kg ayam hidup memerlukan 3181 gr pakan dengan onggok terfermentasi sementara jika tanpa onggok terfermentasi diperlukan 4204 gram.

 

Dari riset tersebut dapat disimpulkan onggok terfermentasi memiliki kandungan protein yang  cukup tinggi serta dapat memberikan efisiensi pakan yang lebih baik sehingga bisa dijadikan alternatif bahan baku pakan untuk mengurangi ketergantungan pada  sumber protein seperti bungkil kedele. Disamping itu penggunaan bahan baku terfermentasi seperti onggok relatif murah sehingga dapat mengurangi biaya produksi pakan. 




Related posts

coded by nessus

1 Comment

  • Its like you read my mind! You seem to know so much about this, like you wrote the book in it or something. I think that you can do with a few pics to drive the message home a little bit, but other than that, this is excellent blog. A fantastic read. I’ll certainly be back.

Leave a comment

ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk