'
Browsing articles tagged with " tapioka"

MEMPELAJARI PENGARUH KONSENTRASI RAGI INSTAN DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP PEMBUATAN ALKOHOL DARI AMPAS UBI KAYU

Mar 27, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi terhadap pembuatan alkohol dari ampas ubi kayu. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor, yakni konsentrasi ragi instan (A) : (6, 8, 10 dan 12%) dan lama fermentasi (R) : (36, 72, 108 dan 144 jam). Parameter analisa adalah total padatan terlarut, rendemen alkohol, berat kering sel dan kadar alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ragi instan dan lama fermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter. Interaksi konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap total padatan terlarut, rendemen alkohol, dan kadar alkohol tetapi tidak berpengaruh terhadap berat kering sel. Konsentrasi ragi instan 12 % dan waktu fermentasi 108 jam menghasilkan rendemen dan mutu alkohol dari ampas ubi kayu yang terbaik.

PENGARUH SUHU DAN C/N RASIO TERHADAP PRODUKSI BIOGAS BERBAHAN BAKU SAMPAH ORGANIK SAYURAN

Mar 22, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

Sampah menjadi permasalahan besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik, Deputi V Menteri Lingkungan Hidup, pada tahun 1995 hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat. Setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah rata-rata 0,8 kilogram per kapita per hari, sedangkan pada tahun 2000 produksi sampah per kapita meningkat menjadi 1 kilogram per hari, dan pada tahun 2020 mendatang diperkirakan mencapai 2,1 kilogram per kapita per hari (Ivan dan Ifa, 2007). Dengan perkiraan nilai di atas, sampah semakin menjadi
perhatian utama masyarakat dan pemerintah karena dampak negatif yang ditimbulkan cukup luas terutama bagi sektor kesehatan dan lingkungan. Sampah merupakan limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, juga dapat berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan keamanan. Apabila sampah tidak diolah dengan baik, maka akan timbul berbagai macam faktor penyakit seperti serangga dan binatang pengerat (tikus), yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Selain masalah kesehatan, sampah yang tidak diolah dapat menyebabkan terjadinya banjir di berbagai daerah dan kota. Banjir dapat terjadi akibat penumpukan sampah yang diindikasi adanya penyumbatan saluran, parit, gorong-gorong serta sungai. Permasalahan lain yang harus segera diatasi adalah keterbatasan bahan
bakar minyak (BBM). Eksploitasi sumber daya alam terutama minyak bumi yang berlebihan telah memberikan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan manusia itu sendiri. Di satu sisi, eksploitasi BBM yang dapat menyediakan energi yang murah, namun di sisi lain ancaman habisnya minyak bumi sudah di depan mata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya energi alternatif untuk diversifikasi ketersediaan energi di masa mendatang.

Biogas merupakan salah satu energi yang terbarukan sehingga sangat mungkin untuk diversifikasi energi. Penggunaan biogas dapat mengatasi permasalahan sampah kota. Hal ini mengingat mayoritas sampah kota berasal dari bahan organik yang dapat digunakan untuk bahan baku biogas seperti sampah-sampah sayuran. Upaya mengolah sampah perkotaan menjadi produk yang bermanfaat seperti biogas telah lama dilakukan. Selain dapat digunakan sebagai produk diversifikasi, biogas juga dapat mengatasi permasalahan sampah. Pengubahan
sampah menjadi biogas juga dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTB), meskipun aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari masih sulit diterapkan. Untuk mewujudkan dan merealisasikan pengkonversian sampah kota menjadi biogas, maka diperlukan penelitian guna memproduksi biogas yang berbahan baku sampah. Sampah yang digunakan sebagai model dalam penelitian ini diperoleh dari pasar Ciputat, Jakarta. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mengatasi permasalahan sampah dan juga dapat menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan.

Pengolahan Limbah dg EM

Mar 20, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Pengolahan limbah cair tapioka sebagai pembiakan mikrobiologi telah diteliti. Limbah yang diolah oleh efektif mikroorganisme (EM) teknologi dalam skala laboratorium. Sampel diambil dari PT. Sari Bumi Swakarsa, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau dan dibawa ke laboratorium menggunakan dua wadah plastik. Sampel dalam wadah pertama berisi akhir proses limbah cair (keluar biarkan) untuk mengendalian kualitas. itu wadah kedua berisi limbah cair sebelum memproses yang diperbaiki dengan EM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempercepat dekomposisi proses limbah cair tapioka menggunakan EM teknologi.
Pengolahan limbah dg EM digunakan tiga pengolahan. Dua perlakuan menggunakan EM dengan konsentrasi 0,5% (seri A) dan 1% (seri B).Pengolahan lain adalah tanpa EM (seri C). Variabel kualitas air sebelum dan setelah pengobatan dibandingkan dengan tapioka limbah cair standar (KepMenLH No.51/MenLH/10/1995) di bertanggung jawab atas pH, BOD, COD, total suspended solid (TSS) dan sianida. Variabel waktu adalah 0, 3, 6, 9, 12, dan 15 hari data pengobatan adalah dianalisis menggunakan ANOVA statistik. Pengaruh EM diamati menggunakan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. The statistik analisis dari data eksperimen menunjukkan bahwa A seri dan seri B telah BOD, COD TSS, dan kurang sianida daripada C series (p â?¤ 0,05). Perbedaan konsentrasi EM tidak mempengaruhi arah BOD, COD dan TSS. Seri B adalah efektif untuk menurunkan sianida (p â?¤ 0,05). EM teknologi dapat digunakan untuk menumbuhkan limbah cair tapioka lebih cepat (12 hari) dibandingkan proses industri (3 bulan) untuk mencapai kualitas air limbah standar.

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT SINGKONG

Mar 17, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Ketela, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Kabupaten Pati, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra industri pembuatan tepung tapioka yang memakai singkong (Manihot esculenta) sebagai bahan baku. Industri ini banyak menghasilkan limbah padat berupa kulit singkong. Penduduk setempat belum memanfaatkan limbah kulit singkong ini secara maksimal. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan suatu proses pembuatan karbon aktif dari kulit singkong yang dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan impuritas seperti zat warna, pemurnian air, obat-obatan, dan lain-lain. Proses ini terdiri dari dua tahapan yaitu aktivasi dan karbonasi. Kulit singkong kering diaktivasi secara kimia menggunakan KOH 0,3 N
selama 1 jam pada suhu 500C di dalam mixer kemudian dikeringkan. Sedangkan, karbonasi dilakukan di dalam furnace elektrik (oksigen terbatas) pada suhu 3000, 4500, 6000, dan 7500C selama 1, 2, dan 3 jam. Uji kualitas dan kuantitas karbon aktif meliputi uji kadar abu, kadar air, uji daya jerap karbon aktif, dan yield. Bilangan iodine optimal terbentuk pada temperatur karbonisasi 3000C dan lamanya waktu karbonisasi 2 jam yaitu 606,589 mg/g dengan total kandungan abu 4,934%, yield 40,083%, dan kadar air 1,419%.

Kulit Singkong untuk Membuat Alkohol

Mar 16, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Kulit singkong merupakan limbah dari tanaman singkong yang memiliki kandungan serat yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Persentase jumlah limbah kulit bagian luar (berwarna coklat dan kasar) sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam (berwarna putih kemerah- merahan dan halus) sebesar 8-15%. Adapun kandungan dari kulit singkong dapat dilihat dari tabel 2.1
Komponen                ( % BK )
Air                               67,7438
Abu                              1,8629
Lemak Kasar               1,4430
Serat Kasar               10,5952
Protein Kasar             6,0360
Tabel 2.1 komposisi kulit singkong
Limbah kulit singkong berasal dari perkebunan singkong, pabrik tepung tapioka, pabrik produk olahan singkong, dan juga pabrik tape atau peuyeum di berbagai daerah di Indonesia. Produksi singkong di Indonesia sangat besar karena Indonesia termasuk sebagai negara kelima terbesar di dunia yang menghasilkan singkong (Deptan, 2005). Jumlah industri pengolahan singkong di Indonesia banyak sehingga dapat ditarik korelasi positif bahwa tingginya jumlah olahan singkong akan menghasilkan semakin banyak limbah kulit singkong. Setiap singkong dapat menghasilkan 10 – 15% limbah kulit singkong. Limbah kulit singkong dalam jumlah besar ini dapat menyebabkan penumpukkan yang berakibat pada perusakan lingkungan (Nduponipop, 2008).

Tepung Singkong Rasa Terigu

Mar 15, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

Singkong melimpah ruah di tanah Wonogiri. Namun, sejauh ini lebih sering dijual mentah sehingga nilai ekonomisnya sangat rendah. Saat harga cukup baik, harga singkong bisa mencapai Rp 1.500-Rp 3.000 per kilogram. Namun, saat panen, harganya jatuh hingga hanya Rp 600 per kilogram.

Melihat ini, Jumadiarto (49), warga Desa Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tergerak untuk mencari cara meningkatkan nilai ekonomis singkong, tanaman andalan di Wonogiri saat musim kemarau.

Kondisi sebagian besar lahan pertanian di Wonogiri hanya dapat ditanami padi sekali setahun, sisanya palawija, terutama singkong. Tidak jarang juga lahan dibiarkan menganggur karena air yang sangat sulit. Produksi singkong dari Kabupaten Wonogiri rata-rata 1,2 juta ton per tahun.

Jumadiarto lantas teringat kearifan lokal nenek moyang tentang khasiat berbagai tanaman serta ragi untuk membuat tempe, tahu, atau tape. Ia lantas memanfaatkan empat jenis bunga ditambah daun dan biji tertentu, tepung singkong, tepung beras, tepung ketan, serta sebuah formula yang masih dirahasiakannya. Bahan-bahan ini lantas diolah menjadi ragi atau enzim yang digunakan untuk mengolah singkong.

”Para nenek moyang kita itu sebenarnya jago bikin ragi atau enzim. Ini kekayaan kearifan lokal kita yang selama ini belum dikembangkan,” kata Jumadi, Minggu (25/11).

Formula enzim yang kemudian diberi nama WRD751WNG ini sekarang tengah dalam proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Nama enzim itu merupakan singkatan dari Wiridan Jumadiarto Wonogiri yang artinya ide putra asli Wonogiri tersebut tidak lain berasal dari Sang Ilahi.

Enzim yang ia temukan pada 2009 itu kemudian digunakan untuk mengolah singkong menjadi tepung yang setara dengan tepung terigu. Artinya, dapat digunakan sebagai pengganti terigu 100 persen. Tepung ini dinamakan Wonocaf, singkatan dari Wonogiri Cassava Fermented atau singkong yang difermentasikan.

Proses produksi

Cara pembuatannya, singkong kupas yang telah dicuci bersih kemudian diparut dan diberi enzim Wonocaf. Setelah didiamkan selama 12 jam, parutan singkong diperas untuk dipisahkan dari airnya. Ampas yang dihasilkan dijemur hingga kering selama dua hari lantas digiling dan disaring sehingga menjadi tepung Wonocaf.

Hasil uji laboratorium Kementerian Pertanian di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan, tepung Wonocaf mengandung 78,9 persen karbohidrat, sementara singkong mengandung 34 persen karbohidrat.

Tepung ini juga tidak mengandung gluten sehingga aman bagi penderita autisme atau alergi. Jumadi pernah mempresentasikan temuannya itu di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong pada Maret 2011.

Tidak hanya itu, limbah hasil pengolahan Wonocaf juga dapat dimanfaatkan. Limbah cair hasil perasan parutan singkong, setelah ditambah ragi jenis tertentu, dapat diolah menjadi produk sampingan yang tidak kalah nilai ekonomisnya. Limbah cair ini bisa untuk biofuel, cairan pemadam kebakaran, pupuk, minuman kesehatan bagi hewan, dan air pendingin radiator. Limbah hasil pengolahan ini masih dalam taraf pengembangan oleh Jumadiarto.

Pria lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat ini kemudian bermitra dengan Riyanto, pemilik Perusahaan Otobus Sedya Mulya untuk memproduksi secara massal tepung Wonocaf di bawah bendera CV Eka Mulya. Karena pengeringan ampas perasan singkong masih dilakukan dengan sinar matahari, produksi masih terbatas sebanyak 3,5 kuintal per hari.

Proses produksi menggunakan tiga mesin parut yang untuk sementara ditangani seorang pegawai. Keduanya tengah memesan oven agar pengeringan ampas singkong yang telah difermentasi bisa lebih cepat. Diharapkan, produksi tepung bisa mencapai 3 ton per hari.

Selain di Wonogiri, saat ini tepung Wonocaf juga dipasarkan ke Kota Solo, Semarang, dan Jakarta. Selain ke tokotoko roti, dipasarkan pula kepada keluarga yang anggotanya menderita autisme. Hotel Sahid Jaya, Solo, juga secara rutin menggunakan Wonocaf untuk berbagai resep kue buatan mereka. Tepung Wonocaf dipasarkan Rp 5.600 per kilogram.

Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendorong CV Eka Mulya mengambil pasokan tepung tapioka basah atau kering dari petani. Jumadiarto berani membeli tepung tapioka basah dan kering dari petani dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. Di sinilah petani yang mengolah singkongnya menjadi tepung tapioka akan mendapat nilai tambah dibandingkan sekadar menjual singkong mentah.

”Kami membentuk inti-plasma. Kami sebagai inti dan plasmanya tersebar di 25 kecamatan se-Kabupaten Wonogiri. Nantinya petani-petani yang tergabung di plasma ini yang akan memasok kebutuhan tepung tapioka. Kami juga membentuk Koperasi Tepung Wonocaf Indonesia,” kata Jumadiarto yang sebelumnya aktif sebagai konsultan di berbagai lembaga nonpemerintah.

Bedanya Tepung Kanji dan Tepung Sagu

Mar 14, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Tepung tapioka:
Berbahan dasar singkong (cassava), tepung ini dibuat melalui proses panjang, mulai dari pembersihan singkong, kemudian diparut lalu diperas untuk diambil saripatinya, kemudian dikeringkan hingga menghasilkan tepung. Nyaris gak mengandung protein dan gluten-free sehingga cocok untuk mereka yang memiliki problem Coeliac (smacam gluten-intolerance). Sering dipake untuk pengental pada tumisan karena efeknya bening dan kental saat dipanaskan. Gak cocok untuk gorengan karena menyerap minyak dan mengeras setelah dingin beberapa lama. Selain pengental, juga dipake untuk pengenyal pada bakso, pengganti sagu pada pempek (yang ini aku lom nyobain), juga sebagai bahan baku krupuk. Ada juga yang mebuat cendol berbahan tapioka, cendolnya lucu juga jadi panjang2, lentur dan bening.
Untuk kue kering bisa saling menggantikan dengan Tepung Sagu maupun Tepung Ararut. Kue kering yang terkenal dan terbuat dari ketiga jenis tepung ini adalah “Kue Semprit”. Pada skala industri, tepung tapioka termodifikasi (modified tapioca starch) dipakai untuk pengental/stabilizer aneka saus.

Tepung sagu:
Tergolong tepung yang gluten-free. Dibuat dari bagian tengah pohon sagu atau pohon aren (sehingga kadang2 disebut sagu aren). Bagian tengah pohon ini dikeruk, dihaluskan, campur air dan didiamkan hingga mengendap. Endapannya dikeringkan dan dihaluskan ato dibentuk lempengan menjadi keping sagu yang populer untuk bubur, menjadi makanan pokok di banyak wilayah di Indonesia Timur. Tepung Sagu punya karakter mirip Tepung Tapioka, tetapi lebih “kering”. Selain untuk bubur, pempek, krupuk dan Kue Semprit, juga menjadi bahan utama pembuatan “Kue Bagea”, sejenis kue kering yang sangat beken sebagai oleh2 dari Ambon dan sekitarnya. Sagu Mutiara perupakan produk dari tepung sagu yang dibentuk menjadi butiran2 kecil, dipakai untuk bubur dan pelengkap aneka minuman. Di pasaran luar negeri, sagu mutiara disebut “Sago Pearls”, ada juga yang dibuat dari tapioca dan disebut “Tapioca Pearls”. “Sagu Tani” merupakan merk tepung sagu dengan kualitas sangat bagus dan harganya relatif lebih mahal daripada tepung sagu biasa.

PROSPEK PEMANFAATAN BIOGAS DARI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TAPIOKA

Mar 14, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

Teknologi produksi biogas telah dapat diterapkan pada instalasi pengolahan air limbah industri tapioka. Pengolahan air limbah dengan kapasitas 150 m3 mampu menghasilkan biogas sebanyak 485,4 m3 per hari. Dari hasil analisa biogas, diperkirakan setiap 1 m3 limbah dapat
menghasilkan 1,88 m3 gas metana. Bila tidak dicegah, gas metana ini akan teremisi bebas dan menambah terjadinya peningkatan konsentrasi di atmosfir yang berakibat pada meningkatnya efek rumah kaca. Gas ini memiliki nilai ekonomi bila digunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah untuk keperluan memasak rumah tangga. Gas metana bisa juga dipergunakan sebagai bahan bakar generator yang akan mampu memproduksi sekitar 578 kWh energi listrik.

BIOGAS PRODUCTION USING ANAEROBIC BIODIGESTER FROM CASSAVA STARCH EFFLUENT

Mar 13, 2013   //   by   //   Artikel English, Cassava, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

KMs’ factory activity in Margoyoso produces liquid and solid wastes. The possible alternative was to use the liquid effluent as biogas raw material. This study focuses on the used of urea, ruminant, yeast, microalgae, the treatment of gelled and ungelled feed for biogas production, pH control during biogas production using buffer Na2CO3, and feeding management in the semi- continuous process of biogas production that perform at ambient temperature for 30 days. Ruminant bacteria, yeast, urea, and microalgae was added 10% (v/v), 0.08% (w/v), 0.04% (w/v), 50% (v/v) of mixing solution volume, respectively. The pH of slurry was adjusted with range 6.8-7.2 and was measured daily and corrected when necessary with Na2CO3. The total biogas production was measured daily by the water displacement technique. Biogas production from the ungelling and gelling mixture of cassava starch effluent, yeast, ruminant bacteria, and urea were 726.43 ml/g total solid and 198 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture without yeast was 58.6 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture added by microalgae without yeast was 58.72 ml/g total solid and that with yeast was 189 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture of cassava starch effluent, yeast, ruminant bacteria, and urea in semi-continuous process was 581.15 ml/g total solid. Adding of microalgae as nitrogen source did not give significant effect to biogas production. But adding of yeast as substrate activator was very helpful to accelerate biogas production. The biogas production increased after cassava starch effluent and yeast was added. Requirement of sodium carbonate (Na2CO3) to increase alkalinity or buffering capacity of fermenting
solution depends on pH-value.

Beberapa Singkong Varietas Unggul

Jan 12, 2012   //   by   //   Singkong, Tapioka  //  No Comments

Singkong atau ubikayu merupakan tanaman pangan yang sudah dibudidayakan sejak lama oleh para petani.  Singkong juga dibudidayakan secara luas, hampir disetiap daerah dengan mudah dapat kita temui tanaman ini.  Selain itu singkong juga mudah untuk dibudidayakan,singkong tidak memerlukan teknologi budidaya yang kompleks.  Namun masih banyak yang membudidayakan singkong ini tanpa mengetahui varietas apa yang ditanam.  Bahkan banyak yang menanam singkong ini dengan bibit yang asal-asalan hanya mengikuti kebiasaan setempat saja.

Dulu Singkong dimanfaatkan yang utama untuk bahan baku tepung tapioka dengan spektum kegunaan yang sangat luas dari mulai tapioka food grade , sebagai bahan pembantu pabrik tekstil, bahan pembantu pabrik kertas dan kayu lapis.

Padahal Kementrian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian sudah mampu menghasilkan bibit singkong unggul dengan potensi hasil yang tinggi. Potensi hasilnya rata-rata lebih dari 20 ton per hektar, bahkan ada yang mencapai lebih dari 100 ton per hektar umbi segar.  Namun sayang sekali sosialisasinya dikalangan petani masih sedikit sekali sehingga petani belum mengetahui beberapa varietas unggul singkong ini.

Beberapa varietas unggul singkong yang telah dilepas oleh Kementrian Pertanian antara lain Adira 1, Adira 2, Adira 4, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah, Malang 4 maupun Malang 6.

Adira 1.

Adira 1 mempunyai pucuk daun berwarna coklat dengan tangkai merah pada bagian atas dan merah muda pada bagian bawahnya.  Bentuk daunya menjari agak lonjong.  Warna batang muda hijau muda  sedangkan batang tua coklat kuning. Umur tanaman antara 7 -10 bulan dengan tinggi tanaman mencapai 1-2 meter.

Umbinya berwarna kuning dengan kulit luar coklat dan kulit dalam kuning.  Umbinya mempunyai rasa yang enak direbus, degan kadar tepung 45% dan kadar protein 0,5% pada saat basah serta kadar sianida (HCN) mencapai 27,5 mg per kilogram.  Umbinya cocok untuk diolah menjadi tape, kripik singkong atau dikonsumsi langsung.

Adira 1 agak tahan terhadap serangan hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus), tahan terhadap bakteri hawar daun Pseudomonas sonacaearum, dan Xantohomonas manihots.

Adira 1 mempunyai potensi hasil yang cukup tinggi mencapai rata-rata 22 ton per hektar

Adira 2.

Adira 2 mempunyai ciri-ciri daunya berbentuk menjaai agak lonjong dan gemuk dengan warna pucuknya ungu.  Warna tangkai daun bagian atas merah muda dan bagian bawahnya hijau muda.  Warna tulang daunya merah muda pada bagian atas dan bagian bawahnya hijau muda. Warna batang muda hijau  muda dan menjadi putih coklat saat sudah tua.  Tinggi tanaman sekitar 1 – 2 meter dengan umur tanaman mencapai 8 -12 bulan.

Warna umbi putih dengan kulit bagian luar putih coklat dan bagian dalamnya ungu muda.  Kualitas rebusnya bagus namun rasanya agak pahit.  Umbinya mempunyai kandingan tepung 41% dan protein 0,7% saat basah dengan kadar sianida (HCN) sekitar 124 mg per kilogram.  Umbinya cocok untuk bahan baku tepung tapioka.

Adira 2 ini tahan terhadap serangan penyakit layu (Pseudomonas solanacearum) dan agak tahan terhadap tugau merah (Tetrabnichus bimaculatus).

Adira 2 mempunyai potensi hasil cukup tinggi mencapai 22 ton per hektar umbi basah.

Adira 4.

Ciri-ciri dari Adira 4 ini antara lain pucuk daun berwarna hijau dengan bentuk daunya biasa agak lonjong dan tulang daunya berwarna merah muda pada bgaian atas serta hijau muda pada bagian bawahnya.  Warna tangkai daun bagian ataas merah kehijauan dan bagian bawahnya hijau muda.  Warna batang muda hijau dan batang tua abu-abu. Tinggi tanaman antara 1,5 – 2 meter dengan umur tanaman mencapai 10 bulan.

Umbinya berwarna putih dengan kulit luar coklat dan ros bagian dalamnya.  Umbinya mempunyai kualitas rebus yang bagus namun agak pahit.  Umbinya mempunyai kandungan tepung mencapai 18-22 % dan proteinya 0,8 – 22% dengan kadar HCN sekitar 68 mg per kilogram. Umbinya  cocok untuk  bahan baku tepung tapioka.

Adira 4 tahan terhadap serangan Pseudomonas solanacearum, dan Xanthomonas manihots, dan agak  tahan terhadap hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus).

Adira 4 ini mempunyai potensi hasil yang tinggi mencapai 35 ton per hektar umbi basah.

Malang 1.

Malang 1 mempunyai daun berwarna hijau keunguan dengan bentuk daun menjari agak gemuk.  Dengan tangkai daun bagian atas hijau kekuningan dengan becak ungu merah pada bagian pangkal bawah.  Warna batang muda hijau muda dan hijau keabu-abuan pada bagian bawahnya.  Tinggi tanaman mencapai 1,5 – 3,0 meter dengan umur tanaman mencapai 9-10 bulan.

Umbinya berwarna putih kekuningan dengan kualitas rebus yang enak dan rasa manis. Kandungan tepungnya mencapai 32-36% dan proteinya mencapai 0,5 % umbi segar.  Kadar sianida (HCN) kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.  Umbinya cocok sebagai bahan baku tepung tapioka.

Malang 1 ini toleran terhadap serangan tungau merah Tetranichus sp dan becak daun Cercospora sp serta daya adaptasinya cukup luas.

Potensi hasilnya cukup tinggi antara 24,3 sampai 48,7 ton per hektar dengan rata-rata hasil mencapai 36,5 ton per hektar.

Malang 2. 

Malang 2 mempunyai bentuk daun menjari dengan cuping yang sempit.  Warna pucuk daunya hijau muda kekuningan dengan tangkai daun atas hijau muda kekuningan dan bagian bawahnya hijau.  Warna batang muda hijau muda dan batang tua coklat kemerahan.  Tinggi tanamn mencapai 1,5 – 3,0 meter dengan unmur mencapai 8 – 10 bulan.

Warna umbinya kuning muda dengan warna kulit luar coklat kemerahan dan putih kecoklatan bagian dalamnya.  rasa umbinya enak dengan kandungan tepungnya mencapai 32 – 36%, protein 0,5% umbui segar dan sianida (HCN) kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.

Malang 2 toleran terhadap penyakit becak daun Cercospora sp dan hawar daun (Cassava bacterial blight) namun agak peka terhadap tungau merah Tetranichus sp.

Potensi hasilnya tinggi mencapai 20 – 42 ton per hektar dengan rata-rata hasil mencapai 31, 5 ton per hektar umbi basah.

Malang 4.

Bentuk daunya menjari dengan lamina gemuk.  Warna daun muda ungu dan berubah menjadi hijau saat tua dengan tangkai daun berawarna hijau.  Warna batang keunguan. Malang 4 termasuk varietas singkong yang tidak bercabang. Tinggi tanaman kurang dari 2 meter dan umur tanaman mencapai 9 bulan.

Umbinya berwarna putih dengan kulit luar coklat dan kulit bagian dalam kuning.  Ukuran umbinya besar dan kualitas rebusnya baik namun rasanya agak pahit.  Kandungan tepung 25 – 32 % dan sianida (HCN) kurang dari 100 ppm dengan metode asam pikrat.

Malang 4 agak tahan terhadap tungau merah Tetranichus sp.  Selain itu Malang 4 juga adaptif pada lahan-lahan dengan kandungan hara sub optimal.  Potensi hasilnya tinggi mencapai 39.7 ton per hektar umbi basah.

Malang 6.

Bentuk daunya menjari dengan lamina gemuk. Warna daun muda ungu dan yang tua berwarna hijau dengan tangkai daun hijau muda.  batang berwarna abu-abu.  Tinggi tanamn kurang dari 2 meter dengan umur tanaman mencapai 9 bulan.

Umbinya berwarna putih dengan kulit luar berwarna putih dan berwarna kuning pada bagian dalamnya.  Ukuran umbi termasuk sedang dengan kualitas rebusnya baik, namun rasanya pahit.  kandungan tepung 25 – 32 % dan sianida (HCN) kurang dari 100 ppm dengan metode asam pikrat.

Malang 6 agak tahan terhadap tungau merah Tetranichus sp. Potensi hasilnya tinggi  dengan rata-rata hasilnya mencapai 36,41 ton per hektar umbi basah.  Selain itu Malang 6 adaptif terhadap hara sub optimal.

Darul Hidayah.

Bentuk daunya menjari agak ramping dengan warna pucuk daun hijau agak kekuningan dan tangkai daun tua berwarna  merah.    Warna batang muda hijau dan yang tua berwarna putih.  Kulit batangnya  mudah  mengelupas.  Bercabang sangat ekstensif hingga mencapai 4 cabang.  Tinggi tanamn mencapai 3,65 meter dengan umur tanaman mencapai 8 -12 bulan.

Umbinya memanjang berwarna putih dengan tekstur padat, kualitas rebus baik dengan rasa umbinya kenyal seperti ketan.  kandungan tepung 25 – 31,5 %, kandungan air 55 – 65%, kandungan serat 0,96% dan dan kandungan sianida (HCN) cukup rendah   kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.  Umbinya cocok untuk bahan baku kripik singkong.

Potensi hasilnya sangat tinggi mencapai 102,10 ton per hektar  umbi basah namun varietas ini agak peka terhadap tunga merah Tetranichus sp dan penyakit bususk jamur Fusarium sp.

Pages:123»
ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk