'
Browsing articles tagged with " cassava"

BIOGAS PRODUCTION USING ANAEROBIC BIODIGESTER FROM CASSAVA STARCH EFFLUENT

Mar 13, 2013   //   by   //   Artikel English, Cassava, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

KMs’ factory activity in Margoyoso produces liquid and solid wastes. The possible alternative was to use the liquid effluent as biogas raw material. This study focuses on the used of urea, ruminant, yeast, microalgae, the treatment of gelled and ungelled feed for biogas production, pH control during biogas production using buffer Na2CO3, and feeding management in the semi- continuous process of biogas production that perform at ambient temperature for 30 days. Ruminant bacteria, yeast, urea, and microalgae was added 10% (v/v), 0.08% (w/v), 0.04% (w/v), 50% (v/v) of mixing solution volume, respectively. The pH of slurry was adjusted with range 6.8-7.2 and was measured daily and corrected when necessary with Na2CO3. The total biogas production was measured daily by the water displacement technique. Biogas production from the ungelling and gelling mixture of cassava starch effluent, yeast, ruminant bacteria, and urea were 726.43 ml/g total solid and 198 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture without yeast was 58.6 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture added by microalgae without yeast was 58.72 ml/g total solid and that with yeast was 189 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture of cassava starch effluent, yeast, ruminant bacteria, and urea in semi-continuous process was 581.15 ml/g total solid. Adding of microalgae as nitrogen source did not give significant effect to biogas production. But adding of yeast as substrate activator was very helpful to accelerate biogas production. The biogas production increased after cassava starch effluent and yeast was added. Requirement of sodium carbonate (Na2CO3) to increase alkalinity or buffering capacity of fermenting
solution depends on pH-value.

Membuat Singkong Berkompetisi dengan Gandum (Modified Cassava Flour )

Nov 30, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  No Comments

mocafPrinsip dasar pembuatan tepung MOCAF adalah dengan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel ubikayu sedemikian rupa sehingga terjadi liberasi granula pati. Proses liberalisasi ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut.

Selanjutnya granula pati tersebut akan mengalami hidrolisis yang menghasilkan monosakarida sebagai bahan baku untuk menghasilkan asam-asam organik. Senyawa asam ini akan terimbibisi dalam bahan, dan ketika bahan tersebut diolah akan dapat menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang dapat menutupi aroma dan citarasa ubi kayu yang cenderung tidak menyenangkan konsumen. Read more >>

Singkong

Oct 31, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  1 Comment

Singkong, yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_kayu)

Deskripsi

ketelaMemiliki nama latin manihot utilissima. Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin.

Sejarah dan pengaruh ekonomi

Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas M. esculenta dapat dibudidayakan.

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil. Read more >>

TEPUNG TAPIOKA

Oct 31, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong, Tapioka  //  1 Comment

TEPUNG TAPIOKA

  1. PENDAHULUANSerealia dan umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia. Produksi serealia terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian cukup tinggi. Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan serealia dan umbi-umbian sebagai sumber energi pun terus meningkat. Tanaman dengan kadar karbohidrat tinggi seperti halnya serealia dan umbi-umbian pada umumnya tahan terhadap suhu tinggi. Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar, rebusan atau kukusan, hal ini tergantung dari selera.Usaha penganekaragaman pangan sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbi-umbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras. Ubi kayu atau singkong (manihot ) merupakan salah satu bahan makanan sumber karbohidrat (sumber energi).
    Tabel 1. Komposisi Ubi Kayu (per 100 gram bahan)
    KOMPONEN KADAR
    Kalori 146,00 kal
    Air 62,50 gram
    Phosphor 40,00 mg
    Karbohidrat 34,00 gram
    Kalsium 33,00 mg
    Vitamin C 30,00 mg
    Protein 1,20 gram
    Besi 0,70 mg
    Lemak 0,30 gram
    Vitamin B1 0,06 mg
    Berat dapat dimakan 75,00

    Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik singkong dan lain-lain. Read more >>

Pembuatan Tapioka Sederhana

Oct 31, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong, Tapioka  //  2 Comments

Pengeringan Tapioka Sederhana1. PENDAHULUAN
Tapioka adalah tepung pati ubi kayu (singkong,ketela atau cassava). Produk ini digunakan untuk pengolahan makanan, pakan, kosmetika, industri kimia dan pengolahan kayu. Ubi kayu dapat diolah menjadi tapioka dengan cara sederhana menggunakan alat-alat yang biasa terdapat di dapur rumah tangga. Untuk industri kecil, pengolahan sudah memerlukan alat-alat mekanis untuk mempertinggi efisiensi hasil dan biaya. Alat-alat tersebut dapat dibuat di bengkel konstruksi biasa dengan menggunakan bahan-bahan lokal. Untuk industri menengah dan besar, pengolahan memerlukan alat-alat moderen yang bekerja secara efisien dengan kapasitas besar. Read more >>

Kantong Plastik Tapioka Ramah Lingkungan

Oct 30, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  1 Comment

Isu lingkungan kini semakin ramai diperbincangkan masyarakat dunia. Jika dulunya kepedulian terhadap lingkungan dianggap sebagai kegiatan yang membuang-buang biaya, kini maraknya global warming membuat ecopreneur atau grecoplaseen industri dijadikan sebagai salah satu peluang bisnis yang memiliki nilai jual cukup menarik di mata para konsumen. Sekarang ini setiap orang mulai peduli terhadap pemanasan global dan menghindari produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Sehingga wajar adanya bila saat ini produk yang ramah lingkungan memiliki daya saing yang cukup tinggi dan diminati pasar lokal maupun internasional.

Salah satu terobosan baru yang berhasil diciptakan anak bangsa yaitu kantong plastik tapioka ramah lingkungan. Melihat ancaman sampah kantong plastik yang semakin membahayakan lingkungan, PT. Tirta Marta mengangkat permasalahan tersebut sebagai peluang usaha baru yang diyakininya memiliki prospek bisnis sangat besar. Setelah berhasil menciptakan produk oxium (sejenis aditif yang bisa mengurai sampah plastik dalam kurun waktu 2 tahun),  kini PT. Tirta Marta kembali meluncurkan produk baru yang tidak kalah inovatif, yaitu ecoplas (kantong plastik dari tepung tapioka). Tapioka menghasilkan ampas yang juga bisa dimanfaatkan yang disebut onggok. Read more >>

Nata de Cassava dari Limbah Tapioka

Oct 28, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  1 Comment

Orang mungkin sudah banyak mengenal nata de coco sebagai penganan hasil fermentasi air kelapa. Tapi, belum banyak yang mengenal nata de cassava. Kudapan baru hasil olahan limbah pembuatan tepung tapioka ini kini makin banyak diminati. Peluang usahanya pun kini terbuka. Limbah tapioka padat disebut onggok juga sudah lebih dahulu bisa dimanfaatkan.

limbah tapiokaPernahkah Anda mencicipi nata de cassava? Jangan-jangan baru kali ini nama ini hadir di telinga Anda. Ya, dari namanya jelas bisa ditebak kalau penganan ini berbahan dasar singkong.

Bentuk dan tekstur nata de cassava mirip nata de coco.  Putih dan kenyal. Hanya saja ada perbedaannya. Selain rasa nata de cassava yang berasa singkong, penganan ini dibuat dari hasil fermentasi air perasan sisa produksi tepung tapioka dengan mikroba acetobacter xylinum. Sementara nata de coco dibuat dari fermentasi air kelapa. Read more >>

Tapioca flour and exports growth areas

Oct 12, 2011   //   by   //   Artikel English, Cassava, Singkong  //  3 Comments

cassava balance sheetThe Thai tapioca industry will focus on flour exports and Asian markets as part of its growth strategy over the next five years, when the exports of tapioca products could reach 100 billion baht.

The Commerce Ministry projected that by 2016, domestic demand for cassava roots in ethanol production will surge to 13 million tonnes, while exports could top 22.5 million tonnes, totalling 35.5 million tonnes, up 42% from the current production levels.

Speaking at the World Tapioca Conference 2011, Yanyong Phuangrach, the ministry’s permanent secretary, said Thailand should focus more on exporting tapioca flour to substitute for a reduction in the export of tapioca chips and pellets.

The proportion of flour exports is expected to rise to 65% from 51% now, with chips and pellets making up the rest.

Mr Yanyong said the country should build a good image and accept the standards of its tapioca flour and other products to create confidence among importers, buyers and local consumers. Read more >>

Cassava prices continue to climb

Oct 12, 2011   //   by   //   Artikel English  //  1 Comment

Harga ketelaCassava prices continued to move up into the second half of 2011 although the movement is slower than last year. Data from the Ministry of Commerce noted in the consumer price of cassava has risen 1.13% in the first half of 2011, the average price in January Rp 2988 per kilogram (kg) to Rp 3022 per kg in June 2011.

Rhomy Irawan, Second Secretary Cassava Farmers Association of Indonesia (Aspesindo) said the current high price increases that occurred in cassava farmers. From an average price of fresh cassava maximum of Rp 600 to Rp 650 per kg to Rp 900 to Rp 1100 per kg, this price varies depending on the type of cassava and cassava garden access.

“The price of land has increased beyond our expectations, this might be because there is a rise in demand. But we still observe whether the increase is only temporary because there are speculators or will be stable,” said Rhomy via telephone on Tuesday (5 / 7).

Cassava Indonesia Society Head I Suhayo Husen said the price increase is driven by high demand from both domestic industry and overseas. Husen said Indofood demand for semi-finished cassava processed into chips alone reached 200,000 tons to 300,000 tons per year, whereas to produce 1 kg of chips it takes about 3.5 kg of fresh cassava. Read more >>

School’s giant cassava find

Oct 10, 2011   //   by   //   Artikel English, Cassava, Singkong  //  No Comments

giant cassavaTEACHERS and students of Bulileka Sanatan Primary School in Labasa got a shock when a seven-month-old cassava plant bore a 20 kilogram crop.

Students from the school uprooted the plant on Thursday.

Headteacher Narsamma Naidu said they were thrilled to see such a gigantic crop in their yard.

“This is a rare sight and we are really surprised that we have this big crop right here in our school garden,” Ms Naidu said.

“I asked the garden teacher to dig up a cassava plant for our morning tea because we decided to have tea with cassava this morning,” she said.

Ms Naidu said they would cook some for morning tea and the rest would be shared among the teachers who were interested.

She said the growth of the plant would have to be attributed to soil fertility given the creek that flowed nearby.

She said five students planted the crop in December.

Pages:12»
ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk