'

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT SINGKONG MENJADI PAKAN TERNAK

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  No Comments

oleh :1) VYTA W. HANIFAH  2) D. YULISTIANI   dan  3) S.A A. ASMARASARI
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor
Balai Penelitian Ternak, PO Box 212, Bogor 16002

Usaha pembuatan enye-enye menghasilkan limbah kulit singkong yang dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak kambing/domba. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai pakan ternak kambing/domba yang dilakukan dengan memberdayakan pelaku usaha enye-enye.
Kajian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, dengan responden melibatkan para pelaku usaha. Data dikumpulkan melalui metode survei menggunakan kuesioner semi terstruktur dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis laboratorium dilakukan terhadap sampel kulit singkong untuk menguji metode pengelolaannya menjadi pakan ternak kambing/ domba. Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi kulit singkong sebagai pakan ternak sudah diketahui oleh para pelaku. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian kulit singkong langsung ke ternak yang dilakukan oleh peternak Desa Bojongkembar, sedangkan peternak desa Cipambuan melakukan pencacahan dan pelayuan sebelum memberikannya pada ternak. Akan tetapi masih banyak kulit singkong yang terbuang dan tidak dimanfaatkan. Melalui kajian ini, dilakukan pelatihan sebagai sarana memperkenalkan metode pengelolaan kulit singkong menjadi pakan ternak yang murah dan mudah, yaitu dengan perendaman yang dapat menurunkan kandungan Sianida hingga pada batas aman untuk dikonsumsi.

Teknologi  pengelolaan limbah kulit singkong
Pemberian kulit singkong oleh peternak di Bojongkembar dilakukan secara langsung
dicampur dengan rumput atau diberikan setelah kambing/domba diberi makan rumput.
Suplementasi pakan selain singkong yang dilakukan peternak adalah dengan memberikan
limbah pertanian (jagung, ubi jalar, jerami kacang tanah) leguminosa pohon dan dedak
padi. Di lain pihak, peternak Cipambuan mencacahnya terlebih dulu kemudian
dilayukan sebelum diberikan ke ternak. Berbeda dengan Bojongkembar, suplementasi
pakan yang dilakukan peternak di Cipambuan hanya dengan memberikan leguminosa pohon.
Berdasarkan praktek tersebut, diketahui bahwa tingkat kematian ternak akibat keracunan lebih
besar kejadiannya di Desa Bojongkembar.  Kulit singkong yang berpotensi sebagai
pakan ternak mengandung asam sianida. Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi
bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada umbinya. Sifat racun pada biomass ketela
pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari glukosida
sianogenik yang dikandungnya (KHAJARERN et al., 1973). Dilaporkan oleh C
UZIN dan LABAT (1992) total kandungan sianida pada kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg
HCN per kg berat segar. Namun kandungan sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi
oleh varietas tanaman singkongnya (DE BRUIJN,
1971). Dilaporkan bahwa ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada
konsentrasi 2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup (BUTLER et al., 1973). Sedangkan TWEYONGYERE dan KATONGOLE (2002),melaporkan bahwa konsentrasi asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Hasil analisa kandungan HCN pada kulit singkong yang diambil dari Desa Cipambuan dan Bojongkembar adalah
459,56 ppm (Tabel 1). Tingginya kandungan asam sianida dalam kulit singkong ini dapat  menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak (domba/kambing).  Melihat besarnya potensi kulit singkong sebagai sumber pakan ternak, dilain sisi kandungan racun sianidanya masih tinggi, maka perlu dilakukan usaha untuk mengurangi kadar asam sianida sehingga kulit singkong dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Pada percobaan ini dilakukan proses pengolahan kulit singkong diantaranya:  Perendaman: dilakukan dengan cara memasukkan kulit singkong yang sudah di
potong kecil-kecil ke dalam ember yang kemudian diisi air sampai kulit singkong terendam dan dibiarkan semalaman (16 jam).  Pengukusan: dilakukan dengan membersihkan kulit singkong dari tanah yang melekat (dicuci) kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dikukus dalam panci yang ada saranganya yang berisi air dan didihkan selama 15 menit.
Dicampur dengan urea 3% BK: Kulit singkong dicuci kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dicampur dengan urea dengan konsentrasi 3% dari berat kering. Kemudian campuran terbut dimasukkan ke dalam plastik disimpan dalam kondisi kedap udara selama 1 minggu. Fermentasi: dilakukan dengan cara kulit singkong yang sudah dicuci kemudian diiris kecil-kecil yang selanjutnya dikukus dalam panci yang berisi air mendidih selama 15 menit, setelah itu diangkat kemudian ditebar dalam nampan sampai dingin. Setelah dingin kulit singkong ini diinokulasi dengan menggunakan kapang Trichoderma resii, kemudian ditutup dengan nampan diatasnya dan dibiarkan selama 4 hari.  Setelah pemberian perlakuan, kulit singkong pada masing-masing perlakuan dianalisa kandungan asam sianidanya

Leave a comment

ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk