'
Browsing articles in "Penelitian"

MEMPELAJARI PENGARUH KONSENTRASI RAGI INSTAN DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP PEMBUATAN ALKOHOL DARI AMPAS UBI KAYU

Mar 27, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi terhadap pembuatan alkohol dari ampas ubi kayu. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor, yakni konsentrasi ragi instan (A) : (6, 8, 10 dan 12%) dan lama fermentasi (R) : (36, 72, 108 dan 144 jam). Parameter analisa adalah total padatan terlarut, rendemen alkohol, berat kering sel dan kadar alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ragi instan dan lama fermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter. Interaksi konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap total padatan terlarut, rendemen alkohol, dan kadar alkohol tetapi tidak berpengaruh terhadap berat kering sel. Konsentrasi ragi instan 12 % dan waktu fermentasi 108 jam menghasilkan rendemen dan mutu alkohol dari ampas ubi kayu yang terbaik.

PEMBUATAN PROTOTIPE ALAT SOLAR DRYER BERBASIS TENAGA SURYA HYBRID SISTEM PORTABLE

Mar 23, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Indonesia memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang sangat besar. Selain ikan yang melimpah, ada satu biota potensial yang banyak ditemukan di seluruh perairan. Biota itu ialah rumput laut. Pembuatan sebuah alat yang dapat meningkatkan kualitas produksi rumput laut sekarang ini sangat diperlukan, terutama terkait dengan higiene, kadar air,lama pengeringan serta kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu, mengingat permintaan yang besar di dalam maupun luar negeri. Melalui perancangan knock-down (portable) solar dryer berbasis tenaga surya dan energi mekanik (kipas dan kompor) ini rumput laut dapat dikeringkan dengan baik. Alat pengering ini terbuat dari bahan-bahan yang bersifat konduktor serta mempunyai kolektor panas khusus. Selain itu pada alat ini terdapat saluran sirkulasi dan dengan model alat yang tertutup. Pada prinsipnya aplikasi alat ini persis dengan sistem rumah kaca. Uji coba yang dilakukan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara pengeringan alami/terbuka dengan pengeringan solar dryer. Nilai kadar air akhir rumput laut setelah dikeringkan dengan pengeringan solar dryer lebih rendah daripada pengeringan alami. Lalu suhu pengeringan di dalam solar dryer lebih tinggi daripada suhu pengeringan alami. Kelembaban udara relatif lebih rendah pada pengeringan solar dryer daripada pengeringan alami. Ini menunjukkan tngkat efektifitas yang cukup tinggi ketika menggunakan solar dryer daripada menggunakan pengering alami.

PENGARUH SUHU DAN C/N RASIO TERHADAP PRODUKSI BIOGAS BERBAHAN BAKU SAMPAH ORGANIK SAYURAN

Mar 22, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

Sampah menjadi permasalahan besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik, Deputi V Menteri Lingkungan Hidup, pada tahun 1995 hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat. Setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah rata-rata 0,8 kilogram per kapita per hari, sedangkan pada tahun 2000 produksi sampah per kapita meningkat menjadi 1 kilogram per hari, dan pada tahun 2020 mendatang diperkirakan mencapai 2,1 kilogram per kapita per hari (Ivan dan Ifa, 2007). Dengan perkiraan nilai di atas, sampah semakin menjadi
perhatian utama masyarakat dan pemerintah karena dampak negatif yang ditimbulkan cukup luas terutama bagi sektor kesehatan dan lingkungan. Sampah merupakan limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, juga dapat berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan keamanan. Apabila sampah tidak diolah dengan baik, maka akan timbul berbagai macam faktor penyakit seperti serangga dan binatang pengerat (tikus), yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Selain masalah kesehatan, sampah yang tidak diolah dapat menyebabkan terjadinya banjir di berbagai daerah dan kota. Banjir dapat terjadi akibat penumpukan sampah yang diindikasi adanya penyumbatan saluran, parit, gorong-gorong serta sungai. Permasalahan lain yang harus segera diatasi adalah keterbatasan bahan
bakar minyak (BBM). Eksploitasi sumber daya alam terutama minyak bumi yang berlebihan telah memberikan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan manusia itu sendiri. Di satu sisi, eksploitasi BBM yang dapat menyediakan energi yang murah, namun di sisi lain ancaman habisnya minyak bumi sudah di depan mata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya energi alternatif untuk diversifikasi ketersediaan energi di masa mendatang.

Biogas merupakan salah satu energi yang terbarukan sehingga sangat mungkin untuk diversifikasi energi. Penggunaan biogas dapat mengatasi permasalahan sampah kota. Hal ini mengingat mayoritas sampah kota berasal dari bahan organik yang dapat digunakan untuk bahan baku biogas seperti sampah-sampah sayuran. Upaya mengolah sampah perkotaan menjadi produk yang bermanfaat seperti biogas telah lama dilakukan. Selain dapat digunakan sebagai produk diversifikasi, biogas juga dapat mengatasi permasalahan sampah. Pengubahan
sampah menjadi biogas juga dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTB), meskipun aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari masih sulit diterapkan. Untuk mewujudkan dan merealisasikan pengkonversian sampah kota menjadi biogas, maka diperlukan penelitian guna memproduksi biogas yang berbahan baku sampah. Sampah yang digunakan sebagai model dalam penelitian ini diperoleh dari pasar Ciputat, Jakarta. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mengatasi permasalahan sampah dan juga dapat menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan.

PEMISAHAN PADATAN TERSUSPENSI LIMBAH CAIR TAPIOKA DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN

Mar 21, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Permasalahan pencemaran dan upaya pemanfaatan sisa produksi tepung tapioka di Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati salah satu yang belum terselesaikan adalah limbah cair 12.000 m3. RW II Desa Sidomukti seperti desa lainnya membuang limbahnya langsung ke sungai terdekat tanpa melalui pengolahan yang memadahi. Besarnya bahan padatan tersuspensi yang terkandung di dalam volume limbah cair tapioka merupakan beban terberat dalam pengolahan, dan hal ini menjadi tantangan metoden pengolahan fisik. Pemisahan padatan tersuspensi dengan membran ultrafiltrasi sangatlah penting diteliti dengan mengkaji aspek teknis yang difokuskan pada pengukuran konsentrasi dan volume permeat. Cara penelitian yaitu larutan umpan dialirkan pompa melewati modul membran. Tekanan diatur dengan menggunakan katup pengatur tekanan, dan pengambilan sampel dilakukan setelah operasi mencapai waktu yang telah ditentukan. Retentat hasil pengolahan dicatat volumenya dan dianalisa kandungan TSS nya di laboratorium. Hasil uji menunjukkan kemampuan pemisahan padatan tersuspensi sebesar 57% dengan selektifitas COD 70,49 %, padatan total yang terkandung menjadi potensi bahan baku, yaitu 16,4 gr/liter musim kemarau dan 5,69 gr/liter musim penghujan, padatan terlarut yang terkandung di dalam permeat dapat menurunkan pencemaran dan meringankan beban pengolahan air limbah berikutnya. Kajian penerapan dengan analisis SWOT menghasilkan 9 item strategi yaitu penguatan kelembagaan, kemitraan dengan pemerintah, berupaya memanfaatkan limbah cair tapioka dengan teknologi membrane ultrafiltrasi dan pengujian kandungan sianida produk retentat. Dapat disimpulkan bahwa membran ultrafiltrasi mampu memisahkan padatan tersuspensi dan upaya penerapannya dapat berfungsi dan bermanfaat.

Pengolahan Limbah dg EM

Mar 20, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Pengolahan limbah cair tapioka sebagai pembiakan mikrobiologi telah diteliti. Limbah yang diolah oleh efektif mikroorganisme (EM) teknologi dalam skala laboratorium. Sampel diambil dari PT. Sari Bumi Swakarsa, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau dan dibawa ke laboratorium menggunakan dua wadah plastik. Sampel dalam wadah pertama berisi akhir proses limbah cair (keluar biarkan) untuk mengendalian kualitas. itu wadah kedua berisi limbah cair sebelum memproses yang diperbaiki dengan EM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempercepat dekomposisi proses limbah cair tapioka menggunakan EM teknologi.
Pengolahan limbah dg EM digunakan tiga pengolahan. Dua perlakuan menggunakan EM dengan konsentrasi 0,5% (seri A) dan 1% (seri B).Pengolahan lain adalah tanpa EM (seri C). Variabel kualitas air sebelum dan setelah pengobatan dibandingkan dengan tapioka limbah cair standar (KepMenLH No.51/MenLH/10/1995) di bertanggung jawab atas pH, BOD, COD, total suspended solid (TSS) dan sianida. Variabel waktu adalah 0, 3, 6, 9, 12, dan 15 hari data pengobatan adalah dianalisis menggunakan ANOVA statistik. Pengaruh EM diamati menggunakan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. The statistik analisis dari data eksperimen menunjukkan bahwa A seri dan seri B telah BOD, COD TSS, dan kurang sianida daripada C series (p â?¤ 0,05). Perbedaan konsentrasi EM tidak mempengaruhi arah BOD, COD dan TSS. Seri B adalah efektif untuk menurunkan sianida (p â?¤ 0,05). EM teknologi dapat digunakan untuk menumbuhkan limbah cair tapioka lebih cepat (12 hari) dibandingkan proses industri (3 bulan) untuk mencapai kualitas air limbah standar.

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PATI SECARA AEROB MENGGUNAKAN MIKROBA DEGRA SIMBA

Mar 19, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Ketela, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Pembuangan air limbah ke badan air dengan kandungan beban COD dan BOD melebihi 200 mg/l menyebabkan turunnya jumlah oksigen dalam air. Limbah cair industri pati atau tapioka yang akan dibuang ke lingkungan mengandung COD sangat tinggi, yaitu sekitar 7000-30000 ppm. Pengolahan limbah secara anaerob dapat dilakukan untuk menurunkan COD yang tinggi, sedangkan pengolahan secara aerob dilakukan setelah nilai COD kurang dari 1500 ppm untuk mempersingkat waktu pengolahan. Mikroba Degra Simba dapat digunakan untuk  mengefektifkan pengolahan limbah secara aerob sehingga keluaran limbah dapat memenuhi baku mutu lingkungan dan tentunya dalam waktu yang relatif lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Degra Simba yang ditambahkan terhadap COD limbah dan mengetahui pengaruh waktu terhadap kecepatan peruraian bahan organik. Variabel tetap yang digunakan adalah pH 7, laju alir 0.5 ml/detik, dan jenis mikroba Degra Simba. Sedangkan variabel yang diubah adalah konsentrasi mikroba Degra Simba dan waktu tinggal. Penelitian ini dilakukan secara aerob dalam skala laboratorium. Dalam penelitian ini, indikator pencemaran air yang diukur adalah COD. Metode analisa yang digunakan adalah titrasi permanganometri untuk mengetahui kadar zat organik yang terkandung dalam limbah. Dari data hasil penelitian, diketahui bahwa semakin lama waktu operasi maka semakin besar penurunan konsentrasi COD dan semakin besar konsentrasi Degra Simba untuk mengolah limbah maka semakin besar pula penurunan konsentrasi COD. Penurunan konsentrasi COD terbesar pada waktu tinggal 8 jam untuk konsentrasi Degra Simba 0.42%, yaitu sebesar 71.36%.

PENGGUNAAN KULIT SINGKONG SEBAGAI PAKAN UNGGAS

Mar 18, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Eksplorasi bahan pakan alternatif yang berasal dari limbah pertanian tak termanfaatkan dan belum lazim digunakan sebagai bahan pakan perlu terus dilakukan untuk mendapatkan bahan pakan alternatif baru yang dapat digunakan sebagai pakan ternak unggas, salah satu contoh limbah pertanian tersebut adalah kulit singkong. Potensi kulit singkong di Indonesia mencapai 3.3 juta ton/tahun. Pemanfaatan kulit singkong sebagai pakan unggas memiliki beberapa kendala yaitu kandungan protein yang rendah (4,8%), serat kasar yang tinggi (21,2%) serta terdapatnya racun sianida (HCN) yang menjadi faktor pembatas dalam pemanfaatannya. Kendala ini hampir sama dengan yang ditemukan dalam pemanfaatan onggok sebagai bahan pakan untuk unggas. Tetapi kendala itu dapat ditanggulangi oleh teknologi fermentasi. Hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa teknologi fermentasi dapat meningkatkan komposisi nutrisi dan mengurangi atau menghilangkan HCN bahan pakan. Hasil pengujian biologis menunjukkan bahwa penggunaan produk fermentasi kulit singkong sampai tingkat 10% dalam ransum ayam pedaging periode starter tidak memberikan dampak negatif. Tidak berbeda dengan hasil yang ditunjukkan oleh penggunaan produk fermentasi onggok dalam ayam pedaging. Sehubungan belum banyaknya penelitian penggunaan produk fermentasi kulit singkong pada ternak unggas lainnya, penulis memperbandingkan dengan hasil uji biologis produk fermentasi ongggok pada beberapa ternak unggas. Penulis menganggap bahwa peluang penggunaan kulit singkong sebagai pakan unggas sangat besar, hal ini didasarkan pada keberlimpahan ketersediaannya, sudah dapat ditanggulanginya hambatan  utrisi yang selama ini menjadi kendala penggunaannya, dan hasil positif yang ditunjukkan pada saat uji biologis.

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT SINGKONG

Mar 17, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Ketela, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Kabupaten Pati, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra industri pembuatan tepung tapioka yang memakai singkong (Manihot esculenta) sebagai bahan baku. Industri ini banyak menghasilkan limbah padat berupa kulit singkong. Penduduk setempat belum memanfaatkan limbah kulit singkong ini secara maksimal. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan suatu proses pembuatan karbon aktif dari kulit singkong yang dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan impuritas seperti zat warna, pemurnian air, obat-obatan, dan lain-lain. Proses ini terdiri dari dua tahapan yaitu aktivasi dan karbonasi. Kulit singkong kering diaktivasi secara kimia menggunakan KOH 0,3 N
selama 1 jam pada suhu 500C di dalam mixer kemudian dikeringkan. Sedangkan, karbonasi dilakukan di dalam furnace elektrik (oksigen terbatas) pada suhu 3000, 4500, 6000, dan 7500C selama 1, 2, dan 3 jam. Uji kualitas dan kuantitas karbon aktif meliputi uji kadar abu, kadar air, uji daya jerap karbon aktif, dan yield. Bilangan iodine optimal terbentuk pada temperatur karbonisasi 3000C dan lamanya waktu karbonisasi 2 jam yaitu 606,589 mg/g dengan total kandungan abu 4,934%, yield 40,083%, dan kadar air 1,419%.

Kulit Singkong untuk Membuat Alkohol

Mar 16, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Kulit singkong merupakan limbah dari tanaman singkong yang memiliki kandungan serat yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Persentase jumlah limbah kulit bagian luar (berwarna coklat dan kasar) sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam (berwarna putih kemerah- merahan dan halus) sebesar 8-15%. Adapun kandungan dari kulit singkong dapat dilihat dari tabel 2.1
Komponen                ( % BK )
Air                               67,7438
Abu                              1,8629
Lemak Kasar               1,4430
Serat Kasar               10,5952
Protein Kasar             6,0360
Tabel 2.1 komposisi kulit singkong
Limbah kulit singkong berasal dari perkebunan singkong, pabrik tepung tapioka, pabrik produk olahan singkong, dan juga pabrik tape atau peuyeum di berbagai daerah di Indonesia. Produksi singkong di Indonesia sangat besar karena Indonesia termasuk sebagai negara kelima terbesar di dunia yang menghasilkan singkong (Deptan, 2005). Jumlah industri pengolahan singkong di Indonesia banyak sehingga dapat ditarik korelasi positif bahwa tingginya jumlah olahan singkong akan menghasilkan semakin banyak limbah kulit singkong. Setiap singkong dapat menghasilkan 10 – 15% limbah kulit singkong. Limbah kulit singkong dalam jumlah besar ini dapat menyebabkan penumpukkan yang berakibat pada perusakan lingkungan (Nduponipop, 2008).

Tepung Singkong Rasa Terigu

Mar 15, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

Singkong melimpah ruah di tanah Wonogiri. Namun, sejauh ini lebih sering dijual mentah sehingga nilai ekonomisnya sangat rendah. Saat harga cukup baik, harga singkong bisa mencapai Rp 1.500-Rp 3.000 per kilogram. Namun, saat panen, harganya jatuh hingga hanya Rp 600 per kilogram.

Melihat ini, Jumadiarto (49), warga Desa Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tergerak untuk mencari cara meningkatkan nilai ekonomis singkong, tanaman andalan di Wonogiri saat musim kemarau.

Kondisi sebagian besar lahan pertanian di Wonogiri hanya dapat ditanami padi sekali setahun, sisanya palawija, terutama singkong. Tidak jarang juga lahan dibiarkan menganggur karena air yang sangat sulit. Produksi singkong dari Kabupaten Wonogiri rata-rata 1,2 juta ton per tahun.

Jumadiarto lantas teringat kearifan lokal nenek moyang tentang khasiat berbagai tanaman serta ragi untuk membuat tempe, tahu, atau tape. Ia lantas memanfaatkan empat jenis bunga ditambah daun dan biji tertentu, tepung singkong, tepung beras, tepung ketan, serta sebuah formula yang masih dirahasiakannya. Bahan-bahan ini lantas diolah menjadi ragi atau enzim yang digunakan untuk mengolah singkong.

”Para nenek moyang kita itu sebenarnya jago bikin ragi atau enzim. Ini kekayaan kearifan lokal kita yang selama ini belum dikembangkan,” kata Jumadi, Minggu (25/11).

Formula enzim yang kemudian diberi nama WRD751WNG ini sekarang tengah dalam proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Nama enzim itu merupakan singkatan dari Wiridan Jumadiarto Wonogiri yang artinya ide putra asli Wonogiri tersebut tidak lain berasal dari Sang Ilahi.

Enzim yang ia temukan pada 2009 itu kemudian digunakan untuk mengolah singkong menjadi tepung yang setara dengan tepung terigu. Artinya, dapat digunakan sebagai pengganti terigu 100 persen. Tepung ini dinamakan Wonocaf, singkatan dari Wonogiri Cassava Fermented atau singkong yang difermentasikan.

Proses produksi

Cara pembuatannya, singkong kupas yang telah dicuci bersih kemudian diparut dan diberi enzim Wonocaf. Setelah didiamkan selama 12 jam, parutan singkong diperas untuk dipisahkan dari airnya. Ampas yang dihasilkan dijemur hingga kering selama dua hari lantas digiling dan disaring sehingga menjadi tepung Wonocaf.

Hasil uji laboratorium Kementerian Pertanian di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan, tepung Wonocaf mengandung 78,9 persen karbohidrat, sementara singkong mengandung 34 persen karbohidrat.

Tepung ini juga tidak mengandung gluten sehingga aman bagi penderita autisme atau alergi. Jumadi pernah mempresentasikan temuannya itu di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong pada Maret 2011.

Tidak hanya itu, limbah hasil pengolahan Wonocaf juga dapat dimanfaatkan. Limbah cair hasil perasan parutan singkong, setelah ditambah ragi jenis tertentu, dapat diolah menjadi produk sampingan yang tidak kalah nilai ekonomisnya. Limbah cair ini bisa untuk biofuel, cairan pemadam kebakaran, pupuk, minuman kesehatan bagi hewan, dan air pendingin radiator. Limbah hasil pengolahan ini masih dalam taraf pengembangan oleh Jumadiarto.

Pria lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat ini kemudian bermitra dengan Riyanto, pemilik Perusahaan Otobus Sedya Mulya untuk memproduksi secara massal tepung Wonocaf di bawah bendera CV Eka Mulya. Karena pengeringan ampas perasan singkong masih dilakukan dengan sinar matahari, produksi masih terbatas sebanyak 3,5 kuintal per hari.

Proses produksi menggunakan tiga mesin parut yang untuk sementara ditangani seorang pegawai. Keduanya tengah memesan oven agar pengeringan ampas singkong yang telah difermentasi bisa lebih cepat. Diharapkan, produksi tepung bisa mencapai 3 ton per hari.

Selain di Wonogiri, saat ini tepung Wonocaf juga dipasarkan ke Kota Solo, Semarang, dan Jakarta. Selain ke tokotoko roti, dipasarkan pula kepada keluarga yang anggotanya menderita autisme. Hotel Sahid Jaya, Solo, juga secara rutin menggunakan Wonocaf untuk berbagai resep kue buatan mereka. Tepung Wonocaf dipasarkan Rp 5.600 per kilogram.

Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendorong CV Eka Mulya mengambil pasokan tepung tapioka basah atau kering dari petani. Jumadiarto berani membeli tepung tapioka basah dan kering dari petani dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. Di sinilah petani yang mengolah singkongnya menjadi tepung tapioka akan mendapat nilai tambah dibandingkan sekadar menjual singkong mentah.

”Kami membentuk inti-plasma. Kami sebagai inti dan plasmanya tersebar di 25 kecamatan se-Kabupaten Wonogiri. Nantinya petani-petani yang tergabung di plasma ini yang akan memasok kebutuhan tepung tapioka. Kami juga membentuk Koperasi Tepung Wonocaf Indonesia,” kata Jumadiarto yang sebelumnya aktif sebagai konsultan di berbagai lembaga nonpemerintah.

Pages:12»
ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk