'
Browsing articles in "Ketela"

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PATI SECARA AEROB MENGGUNAKAN MIKROBA DEGRA SIMBA

Mar 19, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Ketela, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Pembuangan air limbah ke badan air dengan kandungan beban COD dan BOD melebihi 200 mg/l menyebabkan turunnya jumlah oksigen dalam air. Limbah cair industri pati atau tapioka yang akan dibuang ke lingkungan mengandung COD sangat tinggi, yaitu sekitar 7000-30000 ppm. Pengolahan limbah secara anaerob dapat dilakukan untuk menurunkan COD yang tinggi, sedangkan pengolahan secara aerob dilakukan setelah nilai COD kurang dari 1500 ppm untuk mempersingkat waktu pengolahan. Mikroba Degra Simba dapat digunakan untuk  mengefektifkan pengolahan limbah secara aerob sehingga keluaran limbah dapat memenuhi baku mutu lingkungan dan tentunya dalam waktu yang relatif lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Degra Simba yang ditambahkan terhadap COD limbah dan mengetahui pengaruh waktu terhadap kecepatan peruraian bahan organik. Variabel tetap yang digunakan adalah pH 7, laju alir 0.5 ml/detik, dan jenis mikroba Degra Simba. Sedangkan variabel yang diubah adalah konsentrasi mikroba Degra Simba dan waktu tinggal. Penelitian ini dilakukan secara aerob dalam skala laboratorium. Dalam penelitian ini, indikator pencemaran air yang diukur adalah COD. Metode analisa yang digunakan adalah titrasi permanganometri untuk mengetahui kadar zat organik yang terkandung dalam limbah. Dari data hasil penelitian, diketahui bahwa semakin lama waktu operasi maka semakin besar penurunan konsentrasi COD dan semakin besar konsentrasi Degra Simba untuk mengolah limbah maka semakin besar pula penurunan konsentrasi COD. Penurunan konsentrasi COD terbesar pada waktu tinggal 8 jam untuk konsentrasi Degra Simba 0.42%, yaitu sebesar 71.36%.

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT SINGKONG

Mar 17, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Ketela, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Kabupaten Pati, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra industri pembuatan tepung tapioka yang memakai singkong (Manihot esculenta) sebagai bahan baku. Industri ini banyak menghasilkan limbah padat berupa kulit singkong. Penduduk setempat belum memanfaatkan limbah kulit singkong ini secara maksimal. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan suatu proses pembuatan karbon aktif dari kulit singkong yang dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan impuritas seperti zat warna, pemurnian air, obat-obatan, dan lain-lain. Proses ini terdiri dari dua tahapan yaitu aktivasi dan karbonasi. Kulit singkong kering diaktivasi secara kimia menggunakan KOH 0,3 N
selama 1 jam pada suhu 500C di dalam mixer kemudian dikeringkan. Sedangkan, karbonasi dilakukan di dalam furnace elektrik (oksigen terbatas) pada suhu 3000, 4500, 6000, dan 7500C selama 1, 2, dan 3 jam. Uji kualitas dan kuantitas karbon aktif meliputi uji kadar abu, kadar air, uji daya jerap karbon aktif, dan yield. Bilangan iodine optimal terbentuk pada temperatur karbonisasi 3000C dan lamanya waktu karbonisasi 2 jam yaitu 606,589 mg/g dengan total kandungan abu 4,934%, yield 40,083%, dan kadar air 1,419%.

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT SINGKONG MENJADI PAKAN TERNAK

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  No Comments

oleh :1) VYTA W. HANIFAH  2) D. YULISTIANI   dan  3) S.A A. ASMARASARI
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor
Balai Penelitian Ternak, PO Box 212, Bogor 16002

Usaha pembuatan enye-enye menghasilkan limbah kulit singkong yang dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak kambing/domba. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai pakan ternak kambing/domba yang dilakukan dengan memberdayakan pelaku usaha enye-enye.
Kajian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, dengan responden melibatkan para pelaku usaha. Data dikumpulkan melalui metode survei menggunakan kuesioner semi terstruktur dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis laboratorium dilakukan terhadap sampel kulit singkong untuk menguji metode pengelolaannya menjadi pakan ternak kambing/ domba. Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi kulit singkong sebagai pakan ternak sudah diketahui oleh para pelaku. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian kulit singkong langsung ke ternak yang dilakukan oleh peternak Desa Bojongkembar, sedangkan peternak desa Cipambuan melakukan pencacahan dan pelayuan sebelum memberikannya pada ternak. Akan tetapi masih banyak kulit singkong yang terbuang dan tidak dimanfaatkan. Melalui kajian ini, dilakukan pelatihan sebagai sarana memperkenalkan metode pengelolaan kulit singkong menjadi pakan ternak yang murah dan mudah, yaitu dengan perendaman yang dapat menurunkan kandungan Sianida hingga pada batas aman untuk dikonsumsi.

Teknologi  pengelolaan limbah kulit singkong
Pemberian kulit singkong oleh peternak di Bojongkembar dilakukan secara langsung
dicampur dengan rumput atau diberikan setelah kambing/domba diberi makan rumput.
Suplementasi pakan selain singkong yang dilakukan peternak adalah dengan memberikan
limbah pertanian (jagung, ubi jalar, jerami kacang tanah) leguminosa pohon dan dedak
padi. Di lain pihak, peternak Cipambuan mencacahnya terlebih dulu kemudian
dilayukan sebelum diberikan ke ternak. Berbeda dengan Bojongkembar, suplementasi
pakan yang dilakukan peternak di Cipambuan hanya dengan memberikan leguminosa pohon.
Berdasarkan praktek tersebut, diketahui bahwa tingkat kematian ternak akibat keracunan lebih
besar kejadiannya di Desa Bojongkembar.  Kulit singkong yang berpotensi sebagai
pakan ternak mengandung asam sianida. Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi
bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada umbinya. Sifat racun pada biomass ketela
pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari glukosida
sianogenik yang dikandungnya (KHAJARERN et al., 1973). Dilaporkan oleh C
UZIN dan LABAT (1992) total kandungan sianida pada kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg
HCN per kg berat segar. Namun kandungan sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi
oleh varietas tanaman singkongnya (DE BRUIJN,
1971). Dilaporkan bahwa ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada
konsentrasi 2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup (BUTLER et al., 1973). Sedangkan TWEYONGYERE dan KATONGOLE (2002),melaporkan bahwa konsentrasi asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Hasil analisa kandungan HCN pada kulit singkong yang diambil dari Desa Cipambuan dan Bojongkembar adalah
459,56 ppm (Tabel 1). Tingginya kandungan asam sianida dalam kulit singkong ini dapat  menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak (domba/kambing).  Melihat besarnya potensi kulit singkong sebagai sumber pakan ternak, dilain sisi kandungan racun sianidanya masih tinggi, maka perlu dilakukan usaha untuk mengurangi kadar asam sianida sehingga kulit singkong dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Pada percobaan ini dilakukan proses pengolahan kulit singkong diantaranya:  Perendaman: dilakukan dengan cara memasukkan kulit singkong yang sudah di
potong kecil-kecil ke dalam ember yang kemudian diisi air sampai kulit singkong terendam dan dibiarkan semalaman (16 jam).  Pengukusan: dilakukan dengan membersihkan kulit singkong dari tanah yang melekat (dicuci) kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dikukus dalam panci yang ada saranganya yang berisi air dan didihkan selama 15 menit.
Dicampur dengan urea 3% BK: Kulit singkong dicuci kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dicampur dengan urea dengan konsentrasi 3% dari berat kering. Kemudian campuran terbut dimasukkan ke dalam plastik disimpan dalam kondisi kedap udara selama 1 minggu. Fermentasi: dilakukan dengan cara kulit singkong yang sudah dicuci kemudian diiris kecil-kecil yang selanjutnya dikukus dalam panci yang berisi air mendidih selama 15 menit, setelah itu diangkat kemudian ditebar dalam nampan sampai dingin. Setelah dingin kulit singkong ini diinokulasi dengan menggunakan kapang Trichoderma resii, kemudian ditutup dengan nampan diatasnya dan dibiarkan selama 4 hari.  Setelah pemberian perlakuan, kulit singkong pada masing-masing perlakuan dianalisa kandungan asam sianidanya

Mie Instan dari Bahan Singkong , Siapa Takut ?

Dec 3, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  No Comments
Mie Instan dari SingkongJAKARTA - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali menemukan inovasi produk makanan modern siap saji bernama Mo Mie.

Makanan ini juga dimaksudkan dalam rangka diversifikasi pangan. Apa itu Mo Mie? Mo Mie merupakan mi instan yang berbahan baku tepung singkong termodifikasi atau Modified Cassava Flour (MOCAF) dan tepung tempe.

Pemilihan singkong sebagai bahan baku pembuatan Mo Mie ini cukup beralasan. Mengingat singkong adalah salah satu tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia sebagai sumber karbohidrat, yang produksinya belum optimal karena masih dinilai kurang ekonomis. Read more >>

Segudang Manfaat Singkong

Nov 10, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  1 Comment

Singkong/ Ubi Kayu / ketela (Tapioca/Cassava) terlanjur mendapat predikat “kampungan” , “rendahan” , “makanan kelas bawah”. Bahkan namanya identik dengan lawan kata “keju”. Benarkah memang demikian keberadaan Singkong/Ubi Kayu/Ketela ini di mata kita ? Ironis memang kalau keberadaannya yang sudah terlalu akrab bagi telinga, mata dan lidah kita ternyata menyimpan segudang manfaat-lanjutan yang belum kebanyakan dari kita mengetahuinya.

Cukuplah daftar derivatif singkong / ubi kayu / ketala ini sebagai sumber informasi yang terlewat tersebut :

1.Sorbitol
2.Modified Tapioca Flour
3.Sorbitol Powder
4.Maltitol
5.Glucose/Maltose Syrup
6.Maltodextrine & Dried Glucose Syrup
7.Dextrose Monohydrate

Read more >>

Singkong

Oct 31, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  1 Comment

Singkong, yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_kayu)

Deskripsi

ketelaMemiliki nama latin manihot utilissima. Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin.

Sejarah dan pengaruh ekonomi

Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas M. esculenta dapat dibudidayakan.

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil. Read more >>

TEPUNG TAPIOKA

Oct 31, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong, Tapioka  //  1 Comment

TEPUNG TAPIOKA

  1. PENDAHULUANSerealia dan umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia. Produksi serealia terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian cukup tinggi. Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan serealia dan umbi-umbian sebagai sumber energi pun terus meningkat. Tanaman dengan kadar karbohidrat tinggi seperti halnya serealia dan umbi-umbian pada umumnya tahan terhadap suhu tinggi. Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar, rebusan atau kukusan, hal ini tergantung dari selera.Usaha penganekaragaman pangan sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbi-umbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras. Ubi kayu atau singkong (manihot ) merupakan salah satu bahan makanan sumber karbohidrat (sumber energi).
    Tabel 1. Komposisi Ubi Kayu (per 100 gram bahan)
    KOMPONEN KADAR
    Kalori 146,00 kal
    Air 62,50 gram
    Phosphor 40,00 mg
    Karbohidrat 34,00 gram
    Kalsium 33,00 mg
    Vitamin C 30,00 mg
    Protein 1,20 gram
    Besi 0,70 mg
    Lemak 0,30 gram
    Vitamin B1 0,06 mg
    Berat dapat dimakan 75,00

    Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik singkong dan lain-lain. Read more >>

Pembuatan Tapioka Sederhana

Oct 31, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong, Tapioka  //  2 Comments

Pengeringan Tapioka Sederhana1. PENDAHULUAN
Tapioka adalah tepung pati ubi kayu (singkong,ketela atau cassava). Produk ini digunakan untuk pengolahan makanan, pakan, kosmetika, industri kimia dan pengolahan kayu. Ubi kayu dapat diolah menjadi tapioka dengan cara sederhana menggunakan alat-alat yang biasa terdapat di dapur rumah tangga. Untuk industri kecil, pengolahan sudah memerlukan alat-alat mekanis untuk mempertinggi efisiensi hasil dan biaya. Alat-alat tersebut dapat dibuat di bengkel konstruksi biasa dengan menggunakan bahan-bahan lokal. Untuk industri menengah dan besar, pengolahan memerlukan alat-alat moderen yang bekerja secara efisien dengan kapasitas besar. Read more >>

Hilangkan Racun Pada Daun Ketela Pohon

Oct 8, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  1 Comment
Kandungan protein daun singkong ternyata sangat tinggi. Jauh berbeda dengan kandungan protein ketelanya atau tapioka atau onggoknya.  Secara umum, dalam berat yang sama dengan berat telur, berat protein (nabati) yang dikandung daun singkong lebih kurang sama dengan yang dikandung telur. Hasilpenelitian terhadap 150 jenis ketela pohon yang diteliti, jenis-jenis ketela yang kandungan protein dalam daunnya tergolong paling rendah, pun masih mengandung lebih dari 60% macam asam amino esensial. Namun, daun ketela pohon ternyata juga mengandung racun, yang dalam jumlah besar cukup berbahaya. Racun ketela yang selama ini telah kita kenal baik adalah sianida, yang bila mengkonsumsi pada jumlah besar akan mengakibatkan kepala pening-pening, mual, perut terasa perih, badan gemetar, bahkan pingsan. Namun keberadaan zat kimia ini pada jumlah yang membahayakan hanya terdapat pada ketela-ketela yang memang termasuk ketela berracun saja. Read more >>

Varietas Unggul Singkong Raksasa Darul Hidayah

Sep 22, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  6 Comments

Oleh: ABDUL JAMIL RIDHO dan NITI SOEDIGDO

singkong raksasaDi antara sekian banyak jenis singkong, barangkali singkong raksasa hasil temuan Abdul Jamil Ridho adalah jenis yang masih langka. Raksasa? Betul. Saat ditemui di Pameran Otonomi Daerah 2001 di JCC, Jakarta akhir Februari 2001 lalu, Niti Soedigdo, pengembang tanaman tersebut menceritakan bahwa singkong raksasa tersebut ditemukan setelah ulama asal lampung itu melakukan perenungan.

Kisahnya dimulai seusai melakukan dzikir panjang, lima tahun lalu, di tengah hutan Panaragan Jaya, Lampung Utara, Ridho, pengelola Pondok Pesantren Darul Hidayah di Kota Tulang Bawang, Lampung itu tiba-tiba dikejutkan oleh sebatang tanaman. Sekilas, tanaman tersebut memang terlihat sama dengan singkong di kebunnya. Namun, begitu dicermati lebih dekat, tampak ada sedikit perbedaan. Lantaran penasaran, tanaman itu pun dicabut dari tanah. Read more >>

Pages:12»
ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk