'
Browsing articles in "Cassava"

MEMPELAJARI PENGARUH KONSENTRASI RAGI INSTAN DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP PEMBUATAN ALKOHOL DARI AMPAS UBI KAYU

Mar 27, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi terhadap pembuatan alkohol dari ampas ubi kayu. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor, yakni konsentrasi ragi instan (A) : (6, 8, 10 dan 12%) dan lama fermentasi (R) : (36, 72, 108 dan 144 jam). Parameter analisa adalah total padatan terlarut, rendemen alkohol, berat kering sel dan kadar alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ragi instan dan lama fermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter. Interaksi konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap total padatan terlarut, rendemen alkohol, dan kadar alkohol tetapi tidak berpengaruh terhadap berat kering sel. Konsentrasi ragi instan 12 % dan waktu fermentasi 108 jam menghasilkan rendemen dan mutu alkohol dari ampas ubi kayu yang terbaik.

PEMBUATAN PROTOTIPE ALAT SOLAR DRYER BERBASIS TENAGA SURYA HYBRID SISTEM PORTABLE

Mar 23, 2013   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Indonesia memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang sangat besar. Selain ikan yang melimpah, ada satu biota potensial yang banyak ditemukan di seluruh perairan. Biota itu ialah rumput laut. Pembuatan sebuah alat yang dapat meningkatkan kualitas produksi rumput laut sekarang ini sangat diperlukan, terutama terkait dengan higiene, kadar air,lama pengeringan serta kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu, mengingat permintaan yang besar di dalam maupun luar negeri. Melalui perancangan knock-down (portable) solar dryer berbasis tenaga surya dan energi mekanik (kipas dan kompor) ini rumput laut dapat dikeringkan dengan baik. Alat pengering ini terbuat dari bahan-bahan yang bersifat konduktor serta mempunyai kolektor panas khusus. Selain itu pada alat ini terdapat saluran sirkulasi dan dengan model alat yang tertutup. Pada prinsipnya aplikasi alat ini persis dengan sistem rumah kaca. Uji coba yang dilakukan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara pengeringan alami/terbuka dengan pengeringan solar dryer. Nilai kadar air akhir rumput laut setelah dikeringkan dengan pengeringan solar dryer lebih rendah daripada pengeringan alami. Lalu suhu pengeringan di dalam solar dryer lebih tinggi daripada suhu pengeringan alami. Kelembaban udara relatif lebih rendah pada pengeringan solar dryer daripada pengeringan alami. Ini menunjukkan tngkat efektifitas yang cukup tinggi ketika menggunakan solar dryer daripada menggunakan pengering alami.

BIOGAS PRODUCTION USING ANAEROBIC BIODIGESTER FROM CASSAVA STARCH EFFLUENT

Mar 13, 2013   //   by   //   Artikel English, Cassava, Penelitian, Tapioka  //  No Comments

KMs’ factory activity in Margoyoso produces liquid and solid wastes. The possible alternative was to use the liquid effluent as biogas raw material. This study focuses on the used of urea, ruminant, yeast, microalgae, the treatment of gelled and ungelled feed for biogas production, pH control during biogas production using buffer Na2CO3, and feeding management in the semi- continuous process of biogas production that perform at ambient temperature for 30 days. Ruminant bacteria, yeast, urea, and microalgae was added 10% (v/v), 0.08% (w/v), 0.04% (w/v), 50% (v/v) of mixing solution volume, respectively. The pH of slurry was adjusted with range 6.8-7.2 and was measured daily and corrected when necessary with Na2CO3. The total biogas production was measured daily by the water displacement technique. Biogas production from the ungelling and gelling mixture of cassava starch effluent, yeast, ruminant bacteria, and urea were 726.43 ml/g total solid and 198 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture without yeast was 58.6 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture added by microalgae without yeast was 58.72 ml/g total solid and that with yeast was 189 ml/g total solid. Biogas production from ungelling mixture of cassava starch effluent, yeast, ruminant bacteria, and urea in semi-continuous process was 581.15 ml/g total solid. Adding of microalgae as nitrogen source did not give significant effect to biogas production. But adding of yeast as substrate activator was very helpful to accelerate biogas production. The biogas production increased after cassava starch effluent and yeast was added. Requirement of sodium carbonate (Na2CO3) to increase alkalinity or buffering capacity of fermenting
solution depends on pH-value.

PENGARUH SUHU DAN C/N RASIO TERHADAP PRODUKSI BIOGAS BERBAHAN BAKU SAMPAH ORGANIK SAYURAN

Sep 30, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : ENDANG YULISTIAWATI

Sampah menjadi permasalahan besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik, Deputi V Menteri Lingkungan Hidup, pada tahun 1995 hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat. Setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah rata-rata 0,8 kilogram per kapita per hari, sedangkan pada tahun 2000 produksi sampah per kapita meningkat menjadi 1 kilogram per hari, dan pada tahun 2020 mendatang diperkirakan mencapai 2,1 kilogram per kapita per hari (Ivan dan Ifa, 2007).  Dengan perkiraan nilai di atas, sampah semakin menjadiperhatian utama masyarakat dan pemerintah karena dampak negatif yang ditimbulkan cukup luas terutama bagi sektor kesehatan dan lingkungan.   Sampah merupakan limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, juga dapat berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan keamanan. Apabila sampah tidak diolah dengan baik, maka akan timbul berbagai macam faktor penyakit seperti serangga dan binatang pengerat (tikus), yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Selain masalah kesehatan, sampah yang tidak diolah dapat menyebabkan terjadinya banjir di berbagai daerah dan kota. Banjir dapat terjadi akibat penumpukan sampah yang diindikasi adanya penyumbatan saluran, parit, gorong-gorong serta sungai.
Permasalahan lain yang harus segera diatasi adalah keterbatasan bahan bakar minyak (BBM). Eksploitasi sumber daya alam terutama minyak bumi yang berlebihan telah memberikan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan manusia itu sendiri. Di satu sisi, eksploitasi BBM yang dapat menyediakan energi yang murah, namun di sisi lain ancaman habisnya minyak bumi sudah di depan mata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya energi alternatif untuk diversifikasi ketersediaan energi di masa mendatang.

PELUANG PENGEMBANGAN INDUSTRI BERBASIS CASSAVA

Sep 30, 2012   //   by   //   Cassava, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : Mangunwidjaja
Laboratorium Bioindustri, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta,
Institut Pertanian Bogor. Kampus Darmaga, PO BOX 220 Bogor

Singkong atau cassava di Indonesia merupakan tanaman pangan penting kedua setelah padi. Dibeberapa daerah bahkan cassava digunakan sebagai bahan pangan utama. Beragam produk pangan dari ubi cassava dihasilkan oleh berbagai daerah dan etnis. Meskipun demikian, sebagai bahan baku industri, pendayagunaan cassava masih sangat terbatas, berupa produk tapioka (pati cassava) atau gaplek untuk pakan temak.
Produk lebih hilir yang dikembangkan secara industripun terbatas pada gula cair (maltodekstrin, glukosa, fruktosa) dan/atau as am sitrat. Untuk menuju ke negara industri atau agroindustri, cassava mempunyai peluang dan sangat potensial untuk didayagunakan menjadi produk produk bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan produk dan pengolahan, kita dapat membuat skenario pengembangan industri cassava generasi pertama (pati dan gaplek), kedua, ketiga dan seterusnya. Beragam produk industri : pangan atau pakan berprotein tinggi, beragam pemanis berkalori rendah yang dapat digunakan untuk pangan atau minuman penyehat, pati termodifikasi, biodeterjen, bahan pelarut sampai bioplastik. Dengan pengembangan agroindustri berbasis cassava, maka akan terjadi jembatan antara agroindustri dan indutri lain (kimia, farmasi, kosmetika dIl) sehingga peranan agroindustri sebagai penopang pembangunan Indonesia yang kaya hasil pertanian, akan menjadi kenyataan.

KULIT SINGKONG SEBAGAI PAKAN UNGGAS

Sep 30, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : CECEP HIDAYAT
Balai penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

Eksplorasi bahan pakan alternatif yang berasal dari limbah pertanian tak termanfaatkan dan belum lazim digunakan sebagai bahan pakan perlu terus dilakukan untuk mendapatkan bahan pakan alternatif baru yang dapat digunakan sebagai pakan ternak unggas, salah satu contoh limbah pertanian tersebut adalah kulit singkong. Potensi kulit singkong di Indonesia mencapai 3.3 juta ton/tahun. Pemanfaatan kulit singkong sebagai pakan unggas memiliki beberapa kendala yaitu kandungan protein yang rendah (4,8%), serat kasar yang tinggi (21,2%) serta terdapatnya racun sianida (HCN) yang menjadi faktor pembatas dalam pemanfaatannya. Kendala ini hampir sama dengan yang ditemukan dalam pemanfaatan onggok sebagai bahan pakan untuk unggas. Tetapi kendala itu dapat ditanggulangi oleh teknologi fermentasi. Hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa teknologi fermentasi dapat meningkatkan komposisi nutrisi dan mengurangi atau menghilangkan HCN bahan pakan. Hasil pengujian biologis menunjukkan bahwa penggunaan produk fermentasi kulit singkong sampai tingkat 10% dalam ransum ayam pedaging periode starter tidak memberikan dampak negatif. Tidak berbeda dengan hasil yang ditunjukkan oleh penggunaan produk fermentasi onggok dalam ayam pedaging. Sehubungan belum banyaknya penelitian penggunaan produk fermentasi kulit singkong pada ternak unggas lainnya, penulis memperbandingkan dengan hasil uji biologis produk fermentasi ongggok pada beberapa ternak unggas. Penulis menganggap bahwa peluang penggunaan kulit singkong sebagai pakan unggas sangat besar, hal ini didasarkan pada keberlimpahan ketersediaannya, sudah dapat ditanggulanginya hambatan nutrisi yang selama ini menjadi kendala penggunaannya, dan hasil positif yang ditunjukkan pada saat uji biologis.

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT SINGKONG MENJADI PAKAN TERNAK

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  No Comments

oleh :1) VYTA W. HANIFAH  2) D. YULISTIANI   dan  3) S.A A. ASMARASARI
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor
Balai Penelitian Ternak, PO Box 212, Bogor 16002

Usaha pembuatan enye-enye menghasilkan limbah kulit singkong yang dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak kambing/domba. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai pakan ternak kambing/domba yang dilakukan dengan memberdayakan pelaku usaha enye-enye.
Kajian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, dengan responden melibatkan para pelaku usaha. Data dikumpulkan melalui metode survei menggunakan kuesioner semi terstruktur dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis laboratorium dilakukan terhadap sampel kulit singkong untuk menguji metode pengelolaannya menjadi pakan ternak kambing/ domba. Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi kulit singkong sebagai pakan ternak sudah diketahui oleh para pelaku. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian kulit singkong langsung ke ternak yang dilakukan oleh peternak Desa Bojongkembar, sedangkan peternak desa Cipambuan melakukan pencacahan dan pelayuan sebelum memberikannya pada ternak. Akan tetapi masih banyak kulit singkong yang terbuang dan tidak dimanfaatkan. Melalui kajian ini, dilakukan pelatihan sebagai sarana memperkenalkan metode pengelolaan kulit singkong menjadi pakan ternak yang murah dan mudah, yaitu dengan perendaman yang dapat menurunkan kandungan Sianida hingga pada batas aman untuk dikonsumsi.

Teknologi  pengelolaan limbah kulit singkong
Pemberian kulit singkong oleh peternak di Bojongkembar dilakukan secara langsung
dicampur dengan rumput atau diberikan setelah kambing/domba diberi makan rumput.
Suplementasi pakan selain singkong yang dilakukan peternak adalah dengan memberikan
limbah pertanian (jagung, ubi jalar, jerami kacang tanah) leguminosa pohon dan dedak
padi. Di lain pihak, peternak Cipambuan mencacahnya terlebih dulu kemudian
dilayukan sebelum diberikan ke ternak. Berbeda dengan Bojongkembar, suplementasi
pakan yang dilakukan peternak di Cipambuan hanya dengan memberikan leguminosa pohon.
Berdasarkan praktek tersebut, diketahui bahwa tingkat kematian ternak akibat keracunan lebih
besar kejadiannya di Desa Bojongkembar.  Kulit singkong yang berpotensi sebagai
pakan ternak mengandung asam sianida. Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi
bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada umbinya. Sifat racun pada biomass ketela
pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari glukosida
sianogenik yang dikandungnya (KHAJARERN et al., 1973). Dilaporkan oleh C
UZIN dan LABAT (1992) total kandungan sianida pada kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg
HCN per kg berat segar. Namun kandungan sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi
oleh varietas tanaman singkongnya (DE BRUIJN,
1971). Dilaporkan bahwa ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada
konsentrasi 2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup (BUTLER et al., 1973). Sedangkan TWEYONGYERE dan KATONGOLE (2002),melaporkan bahwa konsentrasi asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Hasil analisa kandungan HCN pada kulit singkong yang diambil dari Desa Cipambuan dan Bojongkembar adalah
459,56 ppm (Tabel 1). Tingginya kandungan asam sianida dalam kulit singkong ini dapat  menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak (domba/kambing).  Melihat besarnya potensi kulit singkong sebagai sumber pakan ternak, dilain sisi kandungan racun sianidanya masih tinggi, maka perlu dilakukan usaha untuk mengurangi kadar asam sianida sehingga kulit singkong dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Pada percobaan ini dilakukan proses pengolahan kulit singkong diantaranya:  Perendaman: dilakukan dengan cara memasukkan kulit singkong yang sudah di
potong kecil-kecil ke dalam ember yang kemudian diisi air sampai kulit singkong terendam dan dibiarkan semalaman (16 jam).  Pengukusan: dilakukan dengan membersihkan kulit singkong dari tanah yang melekat (dicuci) kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dikukus dalam panci yang ada saranganya yang berisi air dan didihkan selama 15 menit.
Dicampur dengan urea 3% BK: Kulit singkong dicuci kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dicampur dengan urea dengan konsentrasi 3% dari berat kering. Kemudian campuran terbut dimasukkan ke dalam plastik disimpan dalam kondisi kedap udara selama 1 minggu. Fermentasi: dilakukan dengan cara kulit singkong yang sudah dicuci kemudian diiris kecil-kecil yang selanjutnya dikukus dalam panci yang berisi air mendidih selama 15 menit, setelah itu diangkat kemudian ditebar dalam nampan sampai dingin. Setelah dingin kulit singkong ini diinokulasi dengan menggunakan kapang Trichoderma resii, kemudian ditutup dengan nampan diatasnya dan dibiarkan selama 4 hari.  Setelah pemberian perlakuan, kulit singkong pada masing-masing perlakuan dianalisa kandungan asam sianidanya

Beras dari Singkong

Jan 8, 2012   //   by   //   Cassava, Singkong  //  No Comments

Semoga ini menjadi kabar gembira bagi rakyat Indonesia. Kebahagiaan karena kreatifitas anak bangsa dalam diversifikasi bahan makanan. Singkong bukan hanya sebagai bahan baku tapioka tapi juga sebagai bahan lainnya. Dan bukan sebagai solusi dalam “keterpurukan” dunia pertanian khususnya beras yang pernah membanggakan  Indonesia sebagai Lumbung Padi Dunia. Dengan kata-kata harum “SWASEMBADA BERAS”.  Bangga rasanya jadi anak Indonesia.

Keluar dari berbagai kemungkinan penyebab ide kreatif mengganti beras dg “singkong beras” telah di rencanakan oleh sodara kita di kalimantan barat. Mungkin bukan latah. Diduga Kalbar yang tergantung pasok beras dari luar, 2012 ini coba diversifikasi beras analog berbahan singkong alias ubi kayu seperti Jawa Barat.

“Jadi inovasinya tahun ini akan dibuat beras tiruan yang berbahan dasar singkong yang banyak terdapat di Kalimantan Barat,” ungkap Mochamad Budi Setiawan, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kalbar, Rabu (4/1).

Hanya saja, menurut Budi beras analog dari ubi itu belum jadi karena pihaknya sedang mempelajari tata cara pengolahan singkong hingga menjadi butiran mirip beras tersebut.

“Sebagai pendukung pengolahan singkong jadi beras tiruan itu, nantinya akan dilengkapi dengan alat khusus pengolah potongan singkong menjadi tepung hingga menjadi butiran beras,” ujarnya.

Selain singkong, penerapan diversifikasi pangan di Kalbar juga memanfaatkan talas alias keladi dan aneka umbi-umbian hingga kacang-kacangan. Prinsipnya, mengedepankan makanan yang mengandung 3B yakni beragam, bergizi, dan berimbang, serta aman.

Budi juga mengandalkan prestasi yang pernah diraih Kalbar yakni juara kedua pada lomba cipta menu 3B di Gorontalo pada 20-23 Oktober 2011 lalu dalam rangkaian peringatan hari Pangan Sedunia ke-31.

“Hal ini dilakukan pula sebagai bentuk dukungan pada diversifikasi pangan, untuk menuju penurunan konsumsi beras hingga 1 persen hingga 2015 mendatang,” pungkas Budi.

Negara Penghasil Singkong

Dec 14, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Singkong  //  No Comments

Negara Penghasil Singkong Dunia. Pemanfaatan singkong yang lebih dominan sebagai bahan baku tapioka .

isi Negara Banyaknya
Ton
1  Niger 44.582.000
2  Somalia 38.442.000
3  Thailand 27.565.636
4  Brasil 25.877.918
5  Indonesia 21.593.052
6  Republik Demokratik Kongo 15.019.430
7  Ghana 9.650.000*
8  Vietnam 9.395.800
9  India 9.053.900
10  Angola 8.840.000*
11  Tanzania 6.600.000*
12  Uganda 5.072.000
13  Mozambik 5.038.623*
14  Paraguay 4.800.000*
15  Republik Rakyat Cina 4.361.573*
16  Kamboja 3.676.232
Sedunia 232.950.180

Kandungan Gizi Singkong

Dec 13, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Singkong  //  No Comments

Kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi:

  • Kalori                        121 kal
  • Air                              62,50 gram
  • Fosfor                       40,00 gram
  • Karbohidrat           34,00 gram
  • Kalsium                   33,00 miligram
  • Vitamin C                  0,00 miligram
  • Protein                        1,20 gram
  • Besi                              0,70 miligram
  • Lemak                        0,30 gram
  • Vitamin B1               0,01 miligram

Singkong lebih banyak dimanfaat dalam bentuk  tapioka .

 

sumber : Wikipedia.org

Pages:123»
ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk