'
Browsing articles from "September, 2012"

PENGARUH SUHU DAN C/N RASIO TERHADAP PRODUKSI BIOGAS BERBAHAN BAKU SAMPAH ORGANIK SAYURAN

Sep 30, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : ENDANG YULISTIAWATI

Sampah menjadi permasalahan besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik, Deputi V Menteri Lingkungan Hidup, pada tahun 1995 hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat. Setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah rata-rata 0,8 kilogram per kapita per hari, sedangkan pada tahun 2000 produksi sampah per kapita meningkat menjadi 1 kilogram per hari, dan pada tahun 2020 mendatang diperkirakan mencapai 2,1 kilogram per kapita per hari (Ivan dan Ifa, 2007).  Dengan perkiraan nilai di atas, sampah semakin menjadiperhatian utama masyarakat dan pemerintah karena dampak negatif yang ditimbulkan cukup luas terutama bagi sektor kesehatan dan lingkungan.   Sampah merupakan limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, juga dapat berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan keamanan. Apabila sampah tidak diolah dengan baik, maka akan timbul berbagai macam faktor penyakit seperti serangga dan binatang pengerat (tikus), yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Selain masalah kesehatan, sampah yang tidak diolah dapat menyebabkan terjadinya banjir di berbagai daerah dan kota. Banjir dapat terjadi akibat penumpukan sampah yang diindikasi adanya penyumbatan saluran, parit, gorong-gorong serta sungai.
Permasalahan lain yang harus segera diatasi adalah keterbatasan bahan bakar minyak (BBM). Eksploitasi sumber daya alam terutama minyak bumi yang berlebihan telah memberikan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan manusia itu sendiri. Di satu sisi, eksploitasi BBM yang dapat menyediakan energi yang murah, namun di sisi lain ancaman habisnya minyak bumi sudah di depan mata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya energi alternatif untuk diversifikasi ketersediaan energi di masa mendatang.

PELUANG PENGEMBANGAN INDUSTRI BERBASIS CASSAVA

Sep 30, 2012   //   by   //   Cassava, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : Mangunwidjaja
Laboratorium Bioindustri, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta,
Institut Pertanian Bogor. Kampus Darmaga, PO BOX 220 Bogor

Singkong atau cassava di Indonesia merupakan tanaman pangan penting kedua setelah padi. Dibeberapa daerah bahkan cassava digunakan sebagai bahan pangan utama. Beragam produk pangan dari ubi cassava dihasilkan oleh berbagai daerah dan etnis. Meskipun demikian, sebagai bahan baku industri, pendayagunaan cassava masih sangat terbatas, berupa produk tapioka (pati cassava) atau gaplek untuk pakan temak.
Produk lebih hilir yang dikembangkan secara industripun terbatas pada gula cair (maltodekstrin, glukosa, fruktosa) dan/atau as am sitrat. Untuk menuju ke negara industri atau agroindustri, cassava mempunyai peluang dan sangat potensial untuk didayagunakan menjadi produk produk bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan produk dan pengolahan, kita dapat membuat skenario pengembangan industri cassava generasi pertama (pati dan gaplek), kedua, ketiga dan seterusnya. Beragam produk industri : pangan atau pakan berprotein tinggi, beragam pemanis berkalori rendah yang dapat digunakan untuk pangan atau minuman penyehat, pati termodifikasi, biodeterjen, bahan pelarut sampai bioplastik. Dengan pengembangan agroindustri berbasis cassava, maka akan terjadi jembatan antara agroindustri dan indutri lain (kimia, farmasi, kosmetika dIl) sehingga peranan agroindustri sebagai penopang pembangunan Indonesia yang kaya hasil pertanian, akan menjadi kenyataan.

KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIK TEPUNG TAPIOKA DAN MOCAL (MODIFIED CASSAVA FLOUR) SEBAGAI PENYALUT KACANG PADA PRODUK KACANG SALUT

Sep 30, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : ADIE MUHAMMAD RAHMAN

Tepung tapioka merupakan salah satu bahan baku dalam pembuatan penyalut pada produk kacang salut. Mutu kacang salut yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh sifat atau karakteritik tepung tapioka yang digunakan, namun belum ada penelitian yang memberikan informasi tentang sifat atau karakteristik tepung tapioka yang berkaitan dengan mutu kacang salut. Dalam penelitian ini, selain tepung tapioka juga digunakan MOCAL (Modified Cassava Flour). MOCAL merupakan produk turunan dari tepung singkong hasil pengembangan Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (LAB KBHP-UNEJ).
Penelitian bertujuan untuk mempelajari karakteristik kimia dan fisik beberapa sampel tepung tapioka dan MOCAL, kemudian mengkorelasikan karakteritik tersebut dengan tingkat pengembangan papatan dan kerenyahan penyalut pada produk kacang salut. Kemudian menentukan karakteristik yang paling relevan terhadap kerenyahan penyalut serta menentukan sampel yang memberikan kerenyahan tertinggi terhadap penyalut pada produk kacang salut.
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama yaitu analisis sifat kimia dan fisik, yang meliputi analisis kadar air, kadar abu, kadar pati, kadar amilosa, nilai pH, bentuk dan ukuran pati, kehalusan, derajat putih, swelling power dan kelarutan, serta sifat amilografi, kemudian juga dilakukan analisis tingkat pengembangan papatantepung tapioka (tapioka A, B, C, D, E, dan F) serta MOCAL. Tahap berikutnya yaitu aplikasi tepung tapioka dan MOCAL sebagai penyalut pada produk kacang salut. Selanjutnya dilakukan analisis tekstur (kerenyahan) pada semua produk kacang salut yang dihasilkan dari tiap sampel dan mengkorelasikan sifat kimia dan fisik dari sampel yang relevan terhadap kerenyahan penyalut pada kacang salut tersebut. Hasil analisis menunjukkan karakteristik kimia dan fisik yang berbeda antar sampel tepung tapioka, begitu pula dengan MOCAL. Berdasarkan hasil analisis korelasi, karakteristik yang paling relevan terhadap tingkat pengembangan papatan dan kerenyahan penyalut pada kacang salut adalah rasio amilosa dan amilopektin. Sementara itu, karakteristik lainnya seperti kadar air, kadar abu, kadar pati, nilai pH, bentuk dan ukuran pati, kehalusan, derajat putih, swelling power dan kelarutan, serta sifat amilografi tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat pengembangan papatan dan kerenyahan penyalut pada produk kacang salut. Korelasi negatif dan nyata terjadi antara tingkat pengembangan papatan maupun kerenyahan rasio amilosa dan amilopektin (P<0.05). Maka dapat disimpulkan bahwa semakin rendah rasio amilosa dan amilopektin, tingkat pengembangan papatan dan kerenyahan penyalut akan semakin besar. Tingkat pengembangan papatan dan kerenyahan tertinggi dimiliki oleh penyalut yang dihasilkan dari tapioka F, sedangkan yang terendah yaitu pada sample MOCAL. Oleh karena itu MOCAL tidak cocok untuk digunakan sebagai penyalut pada produk kacang salut.

KULIT SINGKONG SEBAGAI PAKAN UNGGAS

Sep 30, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Penelitian, Singkong  //  No Comments

oleh : CECEP HIDAYAT
Balai penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

Eksplorasi bahan pakan alternatif yang berasal dari limbah pertanian tak termanfaatkan dan belum lazim digunakan sebagai bahan pakan perlu terus dilakukan untuk mendapatkan bahan pakan alternatif baru yang dapat digunakan sebagai pakan ternak unggas, salah satu contoh limbah pertanian tersebut adalah kulit singkong. Potensi kulit singkong di Indonesia mencapai 3.3 juta ton/tahun. Pemanfaatan kulit singkong sebagai pakan unggas memiliki beberapa kendala yaitu kandungan protein yang rendah (4,8%), serat kasar yang tinggi (21,2%) serta terdapatnya racun sianida (HCN) yang menjadi faktor pembatas dalam pemanfaatannya. Kendala ini hampir sama dengan yang ditemukan dalam pemanfaatan onggok sebagai bahan pakan untuk unggas. Tetapi kendala itu dapat ditanggulangi oleh teknologi fermentasi. Hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa teknologi fermentasi dapat meningkatkan komposisi nutrisi dan mengurangi atau menghilangkan HCN bahan pakan. Hasil pengujian biologis menunjukkan bahwa penggunaan produk fermentasi kulit singkong sampai tingkat 10% dalam ransum ayam pedaging periode starter tidak memberikan dampak negatif. Tidak berbeda dengan hasil yang ditunjukkan oleh penggunaan produk fermentasi onggok dalam ayam pedaging. Sehubungan belum banyaknya penelitian penggunaan produk fermentasi kulit singkong pada ternak unggas lainnya, penulis memperbandingkan dengan hasil uji biologis produk fermentasi ongggok pada beberapa ternak unggas. Penulis menganggap bahwa peluang penggunaan kulit singkong sebagai pakan unggas sangat besar, hal ini didasarkan pada keberlimpahan ketersediaannya, sudah dapat ditanggulanginya hambatan nutrisi yang selama ini menjadi kendala penggunaannya, dan hasil positif yang ditunjukkan pada saat uji biologis.

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT SINGKONG

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Singkong, Tapioka  //  No Comments

oleh : Ikawati dan Melati
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

 

Kabupaten Pati, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra industri pembuatan tepung tapioka yang memakai singkong (Manihot esculenta) sebagai bahan baku. Industri ini banyak menghasilkan limbah padat berupa kulit singkong. Penduduk setempat belum memanfaatkan limbah kulit singkong ini secara maksimal. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan suatu proses pembuatan karbon aktif dari kulit singkong yang dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan impuritas seperti zat warna, pemurnian air, obat-obatan, dan lain-lain. Proses ini terdiri dari dua tahapan yaitu aktivasi dan karbonasi. Kulit singkong kering diaktivasi secara kimia menggunakan KOH 0,3 N
selama 1 jam pada suhu 50 0C di dalam mixer kemudian dikeringkan. Sedangkan, karbonasi dilakukan di dalam furnace elektrik (oksigen terbatas) pada suhu 300 0, 450 0, 600 0, dan 750 0 C selama 1, 2, dan 3 jam. Uji kualitas dan kuantitas karbon aktif meliputi uji kadar abu, kadar air, uji daya jerap karbon aktif, dan yield. Bilangan iodine optimal terbentuk pada temperatur karbonisasi 300 C dan lamanya waktu karbonisasi 2 jam yaitu 606,589 mg/g dengan total kandungan abu 4,934%, yield 40,083%, dan kadar air 1,419%.

Tepung Kulit Singkong

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Singkong  //  No Comments

Pembuatan tepung kulit singkong dapat dilakukan dengan langkah yang sederhana. Tepung kulit singkong memanfaatkan kulit singkong bagian dalam. Kulit Singkong  bagian luar dibersihkan dan tersisa bagian dalam yang bisa dikupas dengan ketebalan kira-kira 2 mm.Setelah itu kulit bagian dalam tersebut kita jemur di bawah terik matahari selama 2-3 hari. Setelah itu di giling dengan penepung beras dan kita ayak dengan saringan 200 mesh.

SDalam singkong kandungan kulitnya ada sekitar 15-20 %. Dan kulit bagian dalam tersebut masih mengandung karbohidrat yang cukup baik untuk pakan ternak.

 

Mesin Ekstraksi Tipe Ulir Pada Proses Pembuatan Tepung Pati Aren

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia  //  No Comments

oleh : Bambang Purwantana , Nursigit Bintoro , Puji Wahyuningsih

Pembuatan pati aren secara umum dilakukan melalui tahapan pemarutan empulur,
perendaman dan pengadukan, penyaringan, pengendapan, dan pengeringan. Tahap
pengadukan dan penyaringan merupakan proses yang memerlukan banyak input energi dan
sangat menentukan kualitas produk. Pada skala industri kecil menengah, tahap pengadukan
dan penyaringan tersebut umumnya masih dikerjakan secara manual pada kondisi lingkungan
dan sanitasi yang kurang terkontrol. Untuk mengatasi permasalahan tersebut sebuah mesin
ekstraksi tipe ulir yang dilengkapi dengan sistem penyemprotan air dikembangkan sebagai
upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pati yang dihasilkan. Penelitian ini
bertujuan mengkaji kinerja mesin ekstraksi tersebut pada proses pembuatan pati aren.
Percobaan dilakukan dengan variasi kecepatan ulir dan debit air semprotan. Pati yang
dihasilkan diukur berdasarkan rendemen dan sifat fisiknya meliputi diameter partikel,
modulus kehalusan, dan indeks keragaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas
optimal mesin ekstraksi adalah 397 kg-empulur/jam. Debit air secara nyata memberikan
pengaruh terhadap kuantitas dan kualitas pati yang dihasilkan. Semakin besar debit air
semprotan, rendemen pati semakin besar, diameter partikel dan modulus kehalusan semakin
besar, sedangkan keragaman butiran semakin kecil. Debit air semprotan sebesar 18 lt/menit
direkomendasikan untuk memperoleh hasil yang terbaik.

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT SINGKONG MENJADI PAKAN TERNAK

Sep 29, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  No Comments

oleh :1) VYTA W. HANIFAH  2) D. YULISTIANI   dan  3) S.A A. ASMARASARI
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor
Balai Penelitian Ternak, PO Box 212, Bogor 16002

Usaha pembuatan enye-enye menghasilkan limbah kulit singkong yang dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak kambing/domba. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai pakan ternak kambing/domba yang dilakukan dengan memberdayakan pelaku usaha enye-enye.
Kajian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, dengan responden melibatkan para pelaku usaha. Data dikumpulkan melalui metode survei menggunakan kuesioner semi terstruktur dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis laboratorium dilakukan terhadap sampel kulit singkong untuk menguji metode pengelolaannya menjadi pakan ternak kambing/ domba. Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi kulit singkong sebagai pakan ternak sudah diketahui oleh para pelaku. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian kulit singkong langsung ke ternak yang dilakukan oleh peternak Desa Bojongkembar, sedangkan peternak desa Cipambuan melakukan pencacahan dan pelayuan sebelum memberikannya pada ternak. Akan tetapi masih banyak kulit singkong yang terbuang dan tidak dimanfaatkan. Melalui kajian ini, dilakukan pelatihan sebagai sarana memperkenalkan metode pengelolaan kulit singkong menjadi pakan ternak yang murah dan mudah, yaitu dengan perendaman yang dapat menurunkan kandungan Sianida hingga pada batas aman untuk dikonsumsi.

Teknologi  pengelolaan limbah kulit singkong
Pemberian kulit singkong oleh peternak di Bojongkembar dilakukan secara langsung
dicampur dengan rumput atau diberikan setelah kambing/domba diberi makan rumput.
Suplementasi pakan selain singkong yang dilakukan peternak adalah dengan memberikan
limbah pertanian (jagung, ubi jalar, jerami kacang tanah) leguminosa pohon dan dedak
padi. Di lain pihak, peternak Cipambuan mencacahnya terlebih dulu kemudian
dilayukan sebelum diberikan ke ternak. Berbeda dengan Bojongkembar, suplementasi
pakan yang dilakukan peternak di Cipambuan hanya dengan memberikan leguminosa pohon.
Berdasarkan praktek tersebut, diketahui bahwa tingkat kematian ternak akibat keracunan lebih
besar kejadiannya di Desa Bojongkembar.  Kulit singkong yang berpotensi sebagai
pakan ternak mengandung asam sianida. Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi
bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada umbinya. Sifat racun pada biomass ketela
pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari glukosida
sianogenik yang dikandungnya (KHAJARERN et al., 1973). Dilaporkan oleh C
UZIN dan LABAT (1992) total kandungan sianida pada kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg
HCN per kg berat segar. Namun kandungan sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi
oleh varietas tanaman singkongnya (DE BRUIJN,
1971). Dilaporkan bahwa ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada
konsentrasi 2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup (BUTLER et al., 1973). Sedangkan TWEYONGYERE dan KATONGOLE (2002),melaporkan bahwa konsentrasi asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Hasil analisa kandungan HCN pada kulit singkong yang diambil dari Desa Cipambuan dan Bojongkembar adalah
459,56 ppm (Tabel 1). Tingginya kandungan asam sianida dalam kulit singkong ini dapat  menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak (domba/kambing).  Melihat besarnya potensi kulit singkong sebagai sumber pakan ternak, dilain sisi kandungan racun sianidanya masih tinggi, maka perlu dilakukan usaha untuk mengurangi kadar asam sianida sehingga kulit singkong dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Pada percobaan ini dilakukan proses pengolahan kulit singkong diantaranya:  Perendaman: dilakukan dengan cara memasukkan kulit singkong yang sudah di
potong kecil-kecil ke dalam ember yang kemudian diisi air sampai kulit singkong terendam dan dibiarkan semalaman (16 jam).  Pengukusan: dilakukan dengan membersihkan kulit singkong dari tanah yang melekat (dicuci) kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dikukus dalam panci yang ada saranganya yang berisi air dan didihkan selama 15 menit.
Dicampur dengan urea 3% BK: Kulit singkong dicuci kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dicampur dengan urea dengan konsentrasi 3% dari berat kering. Kemudian campuran terbut dimasukkan ke dalam plastik disimpan dalam kondisi kedap udara selama 1 minggu. Fermentasi: dilakukan dengan cara kulit singkong yang sudah dicuci kemudian diiris kecil-kecil yang selanjutnya dikukus dalam panci yang berisi air mendidih selama 15 menit, setelah itu diangkat kemudian ditebar dalam nampan sampai dingin. Setelah dingin kulit singkong ini diinokulasi dengan menggunakan kapang Trichoderma resii, kemudian ditutup dengan nampan diatasnya dan dibiarkan selama 4 hari.  Setelah pemberian perlakuan, kulit singkong pada masing-masing perlakuan dianalisa kandungan asam sianidanya

Singkong Cocok Dibuat Ransum Sapi Potong

Sep 28, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Singkong, Tapioka  //  No Comments

Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) merupakan program pemerintah yang telah ditargetkan tahun 2014 dapat dicapai, untuk memenuhi target tersebut komoditas sapi potong harus mampu memenuhi permintaan konsumen sebesar 90 – 95% dari produksi nasional dan sisanya dapat dipenuhi dari impor. Namun demikian pengembangan sapi potong rakyat terkendala oleh keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan serta ketersediaan pakan yang tidak kontinyu sepanjang tahun, terutama di daerah yang beragroekosistem lahan kering. Selain itu sulitnya penyediaan pakan yang berkualitas oleh peternak juga disebabkan karena harga pakan penguat terutama konsentrat semakin mahal.

Singkong merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat digunakan sebagai sumber pakan potensial untuk sapi potong karena hampir semua bagian tanaman maupun limbah agroindustrinya dapat dimanfaatkan. Selain itu singkong merupakan tanaman yang mudah hidup hampir di semua jenis tanah dan tahan terhadap hama penyakit. Umumnya  ditanam  untuk diambil umbinya sebagai sumber  karbohidrat. Cara  perkembangbiakannya  sangat  mudah  yaitu  dengan  stek  batang  dan  sudah dapat dipanen pada umur 8 bulan. Singkong dimanfaatkan antara lain sebagai bahan baku industri dan industri rumah tangga seperti tapioka, makanan ringan, dan lain sebagainya. Limbah agroindustri singkong antara lain adalah onggok, kulit singkong, ataupun singkong afkir yang  mengandung bahan kering (BK) antara 88,65 – 94,35% dan energi (TDN) antara 56,91 – 64,75% BK adalah merupakan bahan pakan yang cukup potensial digunakan sebagai sumber energi.

Pola integrasi antara sapi potong dengan tanaman pangan yaitu singkong melalui pendekatan  pola  low  external  input  sustainable  aqriculture  (LEISA)  diharapkan akan dapat menekan biaya pakan sehingga menurunkan biaya produksi secara keseluruhan, karena pakan merupakan komponen biaya produksi yang terbesar. Singkong merupakan tanaman pangan yang jumlahnya cukup potensial, karena merupakan bahan pakan utama setelah padi dan jagung yang dapat tumbuh hampir di semua agroekosistem. Pemanfaatan singkong saat ini didominasi untuk bahan pangan (54,2%); industri tepung tapioka (19,7%); industri pakan ternak (1,8%); industri non pangan lainnya (8,5%) dan sekitar 15,8% diekspor. Limbah pengolahan singkong pada pembuatan tapioka ataupun snack separti onggok, kulit singkong dan singkong afkir cukup melimpah di sentra-sentra pengolahan seperti di Lampung, Jawa dan Sulawesi Tenggara yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan.

Hasil penelitian tahun 2009 di kandang percobaan Loka Penelitian Sapi Potong, menunjukkan bahwa kandungan singkong afkir sebesar 30% dalam pakan penguat yang berbasis dedak padi mampu menghasilkan PBBH pada sapi PO jantan sebesar  ?0,7 kg/ekor/hari.

 Potensi singkong

Sapi  potong  dalam  mengkonsumsi  bahan  pakan  memiliki  karakteristik  yang sangat unik, pola makan hewan ruminansia ini sangat kompleks melibatkan saluran pencernaan yang panjang dengan bantuan mikroorganisme sehingga dihasilkan zat gizi sederhana yang siap dimanfaatkan oleh tubuh ternak. Pakan yang berkualitas rendah dapat diubah menjadi protein hewani dengan kualitas tinggi yang sangat bermanfaat bagi manusia. Singkong merupakan pakan dengan nilai nutrisi yang tidak terlalu tinggi namun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, yang paling utama adalah bagaimana kita mengungkap keistimewaan singkong menjadi sumber pakan yang dapat optimal dimanfaatkan oleh ternak. Singkong sebagai bahan pakan dengan nilai nutrisi yang rendah dapat dimanfaatkan dalam jumlah banyak, merupakan bahan pakan sumber karbohidrat mudah larut sehingga sangat mudah terserap dan dapat digunakan sebagai pakan penggemukan.

Mengupas potensi singkong lebih dalam yang sangat luar biasa, merupakan sumber bahan pakan yang saat panen jumlahnya melimpah dan harganya murah. Seluruh bagian tanaman dapat digunakan sebagai pakan ternak, termasuk limbah agroindustrinya seperti bonggol umbi (sisa pembuatan tape), kulit dan onggok (limbah industri tapioka), daun singkong dapat juga digunakan untuk fortifikasi limbah untuk pakan ternak karena daun singkong mengandung nilai protein yang cukup tinggi.

Sentra pembuatan tepung tapioka seperti di Lampung dan Pati-Jawa Tengah, penggunaan limbah telah banyak diaplikasikan oleh peternak sekitar dengan berbagai macam perlakuan pengayaan nilai nutrisi antara lain seperti fermentasi ataupun tanpa perlakuan. Limbah agroindustri yang berasal dari singkong banyak digunakan dalam usaha penggemukan sapi potong. Penggunaannya dapat mencapai 90%. Dengan menggunakan limbah tersebut maka biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan. Namun seiring dengan berkembangnya waktu maka limbah industri pertanian berupa onggok semakin diminati peternak sebagai bahan pakan, akibatnya harga onggok melambung, di Jawa Timur harga onggok berkisar Rp. 1.300,00/kg sedangkan singkong Rp. 500,00-700,00/kg. Beberapa peternak sering terbelenggu dengan pola pikir bahwa onggok itu baik, akan tetapi jika dilihat kesempurnaan komposisi gizinya maka singkong pasti lebih unggul dibandingkan onggok, karena singkong masih utuh belum diambil patinya dan bahkan harganya sering lebih murah dan ketersediaannya lebih kontinyu dibandingkan dengan onggok bukan di wilayah sentra industri tapioka. Oleh karena itu pemilihan pakan strategis perlu disosialisasikan kepada peternak agar tepat dalam memilih bahan pakan yang memenuhi kriteria murah, mudah dan manfaat.

Beberapa produk singkong dan hasil sampingnya antara lain : Gaplek, merupakan singkong dalam bentuk potongan kecil yang telah kering sehingga masih dapat diproses menjadi berbagai produk turunan singkong. Metode produksinya sangat sederhana. Singkong segar hanya dikupas, dicuci, dicacah dan dikeringkan atau dijemur. Proses ini mengurangi bobot sebanyak 20% – 30%. Gaplek atau dried cassava chips adalah komoditi yang terkenal di dunia sebagai pakan ternak dengan kadar karbohidrat tinggi. Pelet, dibuat dari umbi kering yang digiling dan dibentuk menjadi bentuk silinder dengan panjang sekitar 2–3 cm dan diameter sekitar 4–8 mm. biasanya sekitar 2–3% dari berat umbi kering hilang selama proses ini, namun pellet mempunyai kelebihan dibanding gaplek yaitu : kualitas lebih seragam, mudah disimpan dan mengurangi biaya transportasi, dan biasanya sampai di tempat tujuan pengiriman dalam bentuk utuh sementara sebagian dari gaplek akan cenderung lembab dan rusak karena panas.

 

Manfaat singkong

Produktivitas sapi potong dipengaruhi oleh banyak  faktor dan pakan merupakan faktor yang paling dominan. Dengan nilai pertambahan berat badan harian (PBBH) yang tinggi diharapkan akan dapat mempersingkat waktu untuk mencapai target bobot potong yang diinginkan pada usaha penggemukan. Penggunaan pakan yang efisien menjamin keuntungan usaha yang optimal. Pengujian pakan penguat yang mengandung hasil samping tanaman singkong (berupa tepung singkong afkir)  sebesar 50 dan 60% pada sapi jantan lepas sapih mampu menghasilkan PBBH sebesar 0,76 dan 0,81 kg/ ekor/hari. Pakan diberikan sebanyak 3,5 % berat badan (BB) berdasarkan bahan kering (BK) dengan imbangan 20% jerami kering dan 80% pakan penguat, sedangkan bahan pakan penyusun pakan penguat yang lain adalah dedak padi, bungkil kopra, bungkil inti sawit, dan mineral. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat mempunyai nilai RC ratio 1,83 dan singkong afkir sebesar 60% mempunyai nilai RC ratio yang lebih tinggi yakni sebesar 2,20; sehingga layak untuk diterapkan karena secara ekonomis menguntungkan.

Pada sapi betina, pubertas lebih dipengaruhi oleh capaian berat badan, jika pada usia pubertas sapi memiliki skor kondisi tubuh yang kurang baik maka birahi pertama belum muncul/terlambat. Hal ini akan sangat merugikan peternak karena biaya produksi yang harus dikeluarkan menjadi semakin banyak. Pakan diberikan untuk mencapai target PBBH ? 0,5 kg/ekor/hari agar dapat mencapai bobot badan ?225 kg pada umur pubertas (<18 bulan). Pemberian pakan dengan kandungan singkong afkir

50% dalam pakan penguat mampu menghasilkan PBBH sebesar 0,54 kg/ekor/hari. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan singkong afkir sebesar 60% mempunyai RC ratio 1,40 lebih tinggi dari penggunaan singkong afkir sebesar 50% dengan RC ratio 1,02. Penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat lebih layak untuk diterapkan karena meskipun 60% singkong afkir secara ekonomis lebih menguntungkan namun karena target PBBH yang dicapai lebih rendah.

Penutup

Penggunaan pakan penguat yang mengandung singkong berupa singkong afkir sampai dengan 60% dalam pakan penguat mampu menghasilkan PBBH sapi jantan sebesar 0,81 kg/ekor/hari lebih besar dari yang ditargetkan 0,7 kg/ekor/hari dengan nilai RC ratio 2,20 yang layak untuk diterapkan. Sedangkan penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat diperoleh PBBH 0,54 kg/ekor/hari, sehingga akan diperoleh berat badan 225 kg pada umur 18 bulan dengan RC ratio yang dicapai sebesar 1,02 yang secara ekonomis layak untuk diterapkan.

Risa Antari dan Uum Umiyasih

Loka Penelitian Sapi Potong, Grati-Pasuruan.

Sumber : Sinar Tani , Edisi 30 Maret – 5 April 2011 No.3399 Tahun XLI

ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk