'
Browsing articles from "January, 2012"

Beberapa Singkong Varietas Unggul

Jan 12, 2012   //   by   //   Singkong, Tapioka  //  No Comments

Singkong atau ubikayu merupakan tanaman pangan yang sudah dibudidayakan sejak lama oleh para petani.  Singkong juga dibudidayakan secara luas, hampir disetiap daerah dengan mudah dapat kita temui tanaman ini.  Selain itu singkong juga mudah untuk dibudidayakan,singkong tidak memerlukan teknologi budidaya yang kompleks.  Namun masih banyak yang membudidayakan singkong ini tanpa mengetahui varietas apa yang ditanam.  Bahkan banyak yang menanam singkong ini dengan bibit yang asal-asalan hanya mengikuti kebiasaan setempat saja.

Dulu Singkong dimanfaatkan yang utama untuk bahan baku tepung tapioka dengan spektum kegunaan yang sangat luas dari mulai tapioka food grade , sebagai bahan pembantu pabrik tekstil, bahan pembantu pabrik kertas dan kayu lapis.

Padahal Kementrian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian sudah mampu menghasilkan bibit singkong unggul dengan potensi hasil yang tinggi. Potensi hasilnya rata-rata lebih dari 20 ton per hektar, bahkan ada yang mencapai lebih dari 100 ton per hektar umbi segar.  Namun sayang sekali sosialisasinya dikalangan petani masih sedikit sekali sehingga petani belum mengetahui beberapa varietas unggul singkong ini.

Beberapa varietas unggul singkong yang telah dilepas oleh Kementrian Pertanian antara lain Adira 1, Adira 2, Adira 4, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah, Malang 4 maupun Malang 6.

Adira 1.

Adira 1 mempunyai pucuk daun berwarna coklat dengan tangkai merah pada bagian atas dan merah muda pada bagian bawahnya.  Bentuk daunya menjari agak lonjong.  Warna batang muda hijau muda  sedangkan batang tua coklat kuning. Umur tanaman antara 7 -10 bulan dengan tinggi tanaman mencapai 1-2 meter.

Umbinya berwarna kuning dengan kulit luar coklat dan kulit dalam kuning.  Umbinya mempunyai rasa yang enak direbus, degan kadar tepung 45% dan kadar protein 0,5% pada saat basah serta kadar sianida (HCN) mencapai 27,5 mg per kilogram.  Umbinya cocok untuk diolah menjadi tape, kripik singkong atau dikonsumsi langsung.

Adira 1 agak tahan terhadap serangan hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus), tahan terhadap bakteri hawar daun Pseudomonas sonacaearum, dan Xantohomonas manihots.

Adira 1 mempunyai potensi hasil yang cukup tinggi mencapai rata-rata 22 ton per hektar

Adira 2.

Adira 2 mempunyai ciri-ciri daunya berbentuk menjaai agak lonjong dan gemuk dengan warna pucuknya ungu.  Warna tangkai daun bagian atas merah muda dan bagian bawahnya hijau muda.  Warna tulang daunya merah muda pada bagian atas dan bagian bawahnya hijau muda. Warna batang muda hijau  muda dan menjadi putih coklat saat sudah tua.  Tinggi tanaman sekitar 1 – 2 meter dengan umur tanaman mencapai 8 -12 bulan.

Warna umbi putih dengan kulit bagian luar putih coklat dan bagian dalamnya ungu muda.  Kualitas rebusnya bagus namun rasanya agak pahit.  Umbinya mempunyai kandingan tepung 41% dan protein 0,7% saat basah dengan kadar sianida (HCN) sekitar 124 mg per kilogram.  Umbinya cocok untuk bahan baku tepung tapioka.

Adira 2 ini tahan terhadap serangan penyakit layu (Pseudomonas solanacearum) dan agak tahan terhadap tugau merah (Tetrabnichus bimaculatus).

Adira 2 mempunyai potensi hasil cukup tinggi mencapai 22 ton per hektar umbi basah.

Adira 4.

Ciri-ciri dari Adira 4 ini antara lain pucuk daun berwarna hijau dengan bentuk daunya biasa agak lonjong dan tulang daunya berwarna merah muda pada bgaian atas serta hijau muda pada bagian bawahnya.  Warna tangkai daun bagian ataas merah kehijauan dan bagian bawahnya hijau muda.  Warna batang muda hijau dan batang tua abu-abu. Tinggi tanaman antara 1,5 – 2 meter dengan umur tanaman mencapai 10 bulan.

Umbinya berwarna putih dengan kulit luar coklat dan ros bagian dalamnya.  Umbinya mempunyai kualitas rebus yang bagus namun agak pahit.  Umbinya mempunyai kandungan tepung mencapai 18-22 % dan proteinya 0,8 – 22% dengan kadar HCN sekitar 68 mg per kilogram. Umbinya  cocok untuk  bahan baku tepung tapioka.

Adira 4 tahan terhadap serangan Pseudomonas solanacearum, dan Xanthomonas manihots, dan agak  tahan terhadap hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus).

Adira 4 ini mempunyai potensi hasil yang tinggi mencapai 35 ton per hektar umbi basah.

Malang 1.

Malang 1 mempunyai daun berwarna hijau keunguan dengan bentuk daun menjari agak gemuk.  Dengan tangkai daun bagian atas hijau kekuningan dengan becak ungu merah pada bagian pangkal bawah.  Warna batang muda hijau muda dan hijau keabu-abuan pada bagian bawahnya.  Tinggi tanaman mencapai 1,5 – 3,0 meter dengan umur tanaman mencapai 9-10 bulan.

Umbinya berwarna putih kekuningan dengan kualitas rebus yang enak dan rasa manis. Kandungan tepungnya mencapai 32-36% dan proteinya mencapai 0,5 % umbi segar.  Kadar sianida (HCN) kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.  Umbinya cocok sebagai bahan baku tepung tapioka.

Malang 1 ini toleran terhadap serangan tungau merah Tetranichus sp dan becak daun Cercospora sp serta daya adaptasinya cukup luas.

Potensi hasilnya cukup tinggi antara 24,3 sampai 48,7 ton per hektar dengan rata-rata hasil mencapai 36,5 ton per hektar.

Malang 2. 

Malang 2 mempunyai bentuk daun menjari dengan cuping yang sempit.  Warna pucuk daunya hijau muda kekuningan dengan tangkai daun atas hijau muda kekuningan dan bagian bawahnya hijau.  Warna batang muda hijau muda dan batang tua coklat kemerahan.  Tinggi tanamn mencapai 1,5 – 3,0 meter dengan unmur mencapai 8 – 10 bulan.

Warna umbinya kuning muda dengan warna kulit luar coklat kemerahan dan putih kecoklatan bagian dalamnya.  rasa umbinya enak dengan kandungan tepungnya mencapai 32 – 36%, protein 0,5% umbui segar dan sianida (HCN) kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.

Malang 2 toleran terhadap penyakit becak daun Cercospora sp dan hawar daun (Cassava bacterial blight) namun agak peka terhadap tungau merah Tetranichus sp.

Potensi hasilnya tinggi mencapai 20 – 42 ton per hektar dengan rata-rata hasil mencapai 31, 5 ton per hektar umbi basah.

Malang 4.

Bentuk daunya menjari dengan lamina gemuk.  Warna daun muda ungu dan berubah menjadi hijau saat tua dengan tangkai daun berawarna hijau.  Warna batang keunguan. Malang 4 termasuk varietas singkong yang tidak bercabang. Tinggi tanaman kurang dari 2 meter dan umur tanaman mencapai 9 bulan.

Umbinya berwarna putih dengan kulit luar coklat dan kulit bagian dalam kuning.  Ukuran umbinya besar dan kualitas rebusnya baik namun rasanya agak pahit.  Kandungan tepung 25 – 32 % dan sianida (HCN) kurang dari 100 ppm dengan metode asam pikrat.

Malang 4 agak tahan terhadap tungau merah Tetranichus sp.  Selain itu Malang 4 juga adaptif pada lahan-lahan dengan kandungan hara sub optimal.  Potensi hasilnya tinggi mencapai 39.7 ton per hektar umbi basah.

Malang 6.

Bentuk daunya menjari dengan lamina gemuk. Warna daun muda ungu dan yang tua berwarna hijau dengan tangkai daun hijau muda.  batang berwarna abu-abu.  Tinggi tanamn kurang dari 2 meter dengan umur tanaman mencapai 9 bulan.

Umbinya berwarna putih dengan kulit luar berwarna putih dan berwarna kuning pada bagian dalamnya.  Ukuran umbi termasuk sedang dengan kualitas rebusnya baik, namun rasanya pahit.  kandungan tepung 25 – 32 % dan sianida (HCN) kurang dari 100 ppm dengan metode asam pikrat.

Malang 6 agak tahan terhadap tungau merah Tetranichus sp. Potensi hasilnya tinggi  dengan rata-rata hasilnya mencapai 36,41 ton per hektar umbi basah.  Selain itu Malang 6 adaptif terhadap hara sub optimal.

Darul Hidayah.

Bentuk daunya menjari agak ramping dengan warna pucuk daun hijau agak kekuningan dan tangkai daun tua berwarna  merah.    Warna batang muda hijau dan yang tua berwarna putih.  Kulit batangnya  mudah  mengelupas.  Bercabang sangat ekstensif hingga mencapai 4 cabang.  Tinggi tanamn mencapai 3,65 meter dengan umur tanaman mencapai 8 -12 bulan.

Umbinya memanjang berwarna putih dengan tekstur padat, kualitas rebus baik dengan rasa umbinya kenyal seperti ketan.  kandungan tepung 25 – 31,5 %, kandungan air 55 – 65%, kandungan serat 0,96% dan dan kandungan sianida (HCN) cukup rendah   kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.  Umbinya cocok untuk bahan baku kripik singkong.

Potensi hasilnya sangat tinggi mencapai 102,10 ton per hektar  umbi basah namun varietas ini agak peka terhadap tunga merah Tetranichus sp dan penyakit bususk jamur Fusarium sp.

Aspergillus niger

Jan 11, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  No Comments

Aspergilus niger merupakan fungi dari filum ascomycetes yang berfilamen, mempunyai hifa berseptat, dan dapat ditemukan melimpah di alam.  Fungi ini biasanya diisolasi dari tanah, sisa tumbuhan, dan udara di dalam ruangan. Koloninya berwarna putih pada Agar Dekstrosa Kentang (PDA) 25 °C dan berubah menjadi hitam ketika konidia dibentuk. Kepala konidia dari A. niger berwarna hitam, bulat, cenderung memisah menjadi bagian-bagian yang lebih longgar seiring dengan bertambahnya umur. Dimanfaatkan juga untuk fermentasi limbah padat tapioka.

Habitat

A. niger dapat tumbuh optimum pada suhu 35-37 °C, dengan suhu minimum 6-8 °C, dan suhu maksimum 45-47 °C.Selain itu, dalam proses pertumbuhannya fungi ini memerlukan oksigen yang cukup (aerobik). A. niger memiliki warna dasar berwarna putih atau kuning dengan lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap sampai hitam.

Metabolisme

Dalam metabolismenya A. niger dapat menghasilkan asam sitrat sehinga fungi ini banyak digunakan sebagai model fermentasi karena fungi ini tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan. A. niger dapat tumbuh dengan cepat, oleh karena itu A. niger banyak digunakan secara komersial dalam produksi asam sitrat, asam glukonat, dan pembuatan berapa enzim seperti amilase, pektinase, amiloglukosidase, dan selulase.

Selain itu, A. niger juga menghasilkan gallic acid yang merupakan senyawa fenolik yang biasa digunakan dalam industri farmasi dan juga dapat menjadi substrat untuk memproduksi senyawa antioksidan dalam industri makanan.

A. niger dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat makanan yang terdapat dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat disekeliling hifa dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa enzim ekstra seluler seperti protease, amilase, mananase, dan ?-glaktosidase. Bahan organik dari substrat digunakan oleh Aspergillus niger untuk aktivitas transport molekul, pemeliharaan struktur sel, dan mobilitas sel.

sumber : http://wikipedia.org.id

Modifikasi Tapioka Menggunakan Enzim Alfa Amilase

Jan 10, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  No Comments

Modifikasi tapioka menggunakan enzim alfa amilase telah dilakukan dalam rangka perbaikan mutu gel tapioka sebagai bahan baku kanji benang lusi pada industri tekstil.  Gel tapioka asli yang merupakan kanji alam mempunyai beberapa kelemahan terutama dalam hal viskositas yang terlalu tinggi, kurang stabil, penetrasi yang rendah, dan beberapa kelemahan lainnya. Berdasarkan struktur kimia, tapioka adalah polimer glukosa yang terdiri atas rantai lurus amilosa (20-25%) dan rantai cabang amilopektin (75-80%). Enzim alfa amilase diharapkan dapat memotong sebagian rantai cabang dan menurunkan kandungan amilopektin sehingga dapat memperbaiki mutu gel tapioka sebagai kanji benang lusi. Penelitian modifikasi dilakukan menggunakan 2 macam enzim alfa amilase yang berbeda.  Karakter enzim, viskositas, kestabilan, dan penetrasi tapioka termodifikasi pada benang kapas, poliester dan campurannya dilakukan analisa. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan enzim alfa amilase perlu diseleksi dengan cermat karena aktivitasnya terhadap kondisi suhu dan pH. Modifikasi tapioka dengan enzim alfa amilase sangat efektif untuk menurunkan viskositas dan meningkatkan kestabilannya. Modifikasi disarankan dilakukan pada suhu yang tidak optimum yaitu pada suhu suhu 40oC untuk menghindari degradasi total pada tapioka. Penetrasi  tapioka termodifikasi lebih baik dibanding tapioka asli. Penetrasi gel tapioka pada benang selulosa (kapas) jauh lebih tinggi dibanding penetrasi kedalam benang poliester.

sumber :http://bbt.kemenperin.go.id

Starch sugar is very competitive

Jan 10, 2012   //   by   //   Artikel English  //  No Comments

Recently brewers had eyes for starch sugar as a technically and economically attractive raw material for beer, and many will switch to locally produced starch sugar.

Beet and cane sugar and molasses have traditionally been used as the preferred carbohydrate source in fermentation processes, because it is cheap and abundant available. This is still the case, but starchy crops are cultivated just as economically and feasible as cane and beet. Thus, High Fructose Syrup based on corn has in the United States demonstrated an explosive growth and largely supplanted cane sugar for industrial applications. To replace the traditional sugar and molasses as carbohydrate source in fermentation all needed is a starch and glucose front end to be added to the fermentation plant.

A starch front end enables the manufacturer to take advantage of starch crops as a cheap and reliable carbohydrate source.

Many products compete for molasses – biofuel in particular. Not only the sugar (sucrose), but also corn has recently become part of a biofuel economy. This may be the reason behind a new trend towards the use of cassava, which can be grown and harvested in the tropical belt round the year a big advantage.

Production based on carbohydrate fermentation will for this reason gradually migrate to tropical or subtropical areas with cheap sources of carbohydrates.

Beras dari Singkong

Jan 8, 2012   //   by   //   Cassava, Singkong  //  No Comments

Semoga ini menjadi kabar gembira bagi rakyat Indonesia. Kebahagiaan karena kreatifitas anak bangsa dalam diversifikasi bahan makanan. Singkong bukan hanya sebagai bahan baku tapioka tapi juga sebagai bahan lainnya. Dan bukan sebagai solusi dalam “keterpurukan” dunia pertanian khususnya beras yang pernah membanggakan  Indonesia sebagai Lumbung Padi Dunia. Dengan kata-kata harum “SWASEMBADA BERAS”.  Bangga rasanya jadi anak Indonesia.

Keluar dari berbagai kemungkinan penyebab ide kreatif mengganti beras dg “singkong beras” telah di rencanakan oleh sodara kita di kalimantan barat. Mungkin bukan latah. Diduga Kalbar yang tergantung pasok beras dari luar, 2012 ini coba diversifikasi beras analog berbahan singkong alias ubi kayu seperti Jawa Barat.

“Jadi inovasinya tahun ini akan dibuat beras tiruan yang berbahan dasar singkong yang banyak terdapat di Kalimantan Barat,” ungkap Mochamad Budi Setiawan, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kalbar, Rabu (4/1).

Hanya saja, menurut Budi beras analog dari ubi itu belum jadi karena pihaknya sedang mempelajari tata cara pengolahan singkong hingga menjadi butiran mirip beras tersebut.

“Sebagai pendukung pengolahan singkong jadi beras tiruan itu, nantinya akan dilengkapi dengan alat khusus pengolah potongan singkong menjadi tepung hingga menjadi butiran beras,” ujarnya.

Selain singkong, penerapan diversifikasi pangan di Kalbar juga memanfaatkan talas alias keladi dan aneka umbi-umbian hingga kacang-kacangan. Prinsipnya, mengedepankan makanan yang mengandung 3B yakni beragam, bergizi, dan berimbang, serta aman.

Budi juga mengandalkan prestasi yang pernah diraih Kalbar yakni juara kedua pada lomba cipta menu 3B di Gorontalo pada 20-23 Oktober 2011 lalu dalam rangkaian peringatan hari Pangan Sedunia ke-31.

“Hal ini dilakukan pula sebagai bentuk dukungan pada diversifikasi pangan, untuk menuju penurunan konsumsi beras hingga 1 persen hingga 2015 mendatang,” pungkas Budi.

Manfaat Berlimpah dari singkong

Jan 8, 2012   //   by   //   Artikel Indonesia, Singkong  //  No Comments

Tanaman singkong adalah tanaman yang sangat populer dunia. Nigeria merupakan produsen singkong supposably terbesar di dunia. Akar singkong salah satu sorces terbesar karbohidrat di dunia. Singkong dapat diklasifikasikan sebagai singkong yang dapat dimakan atau beracun. Penyakit apa??

Kita harus tahu bagaimana cara mengolah Singkong dengan tepat. Jika pengolahan Sayur Singkong tidak benar, mungkin menyebabkan timbulnya penyakit yang disebut Konzo (meski jarang ditemukan). Konzo atau Mantakassa merupakan penyakit lumpuh epidemi biasanya disebabkan oleh proses pengolahan yang tidak cukup pada Singkong pahit.

Kandungan gizi singkong takaran 206 gram atau cangkir akar singkong mentah:

- Protein
- Kolin
- Betaine
- Vitamin B1, Thiamin
- Vitamin B2, Riboflavin
- Vitamin B3, Niacin
- Vitamin B5, Pantothenic Acid
- Vitamin B6, Pyridoxine
- Vitamin B9, Folat, Asam folat
- Vitamin C (Jumlah Besar)
- Vitamin E, A,dan K
- Gula Alam
- Karbohidrat (Bagus Jumlah)
- Dietary Fiber
- Kalori
- Tembaga
- (Jumlah Baik) Mangan
- Selenium
- Lemak Alami
- Omega 3 Asam Lemak
- Asam Lemak Omega 6
- Kalsium
- Besi
- Magnesium
- Fosfor
- Kalium
- Natrium
- seng

Vitamin C:
- Meningkatkan penyembuhan luka
- Mencegah sel dari kerusakan
- Meningkatkan kesehatan gusi
- Meningkatkan kesehatan gigi
- Meningkatkan Sistem kekebalan
- Melindungi dari radikal bebas
- Mengurangi Penuaan
- Menurunkan Resiko dari beberapa Kanker
- Meningkatkan penyerapan Besi
- Meningkatkan kesehatan paru
- Mencegah dari sering pilek

Manfaat kandungan singkong:

- Melindungi dari infeksi sering
- Mendukung tulang yang kuat
- Mendukung kesehatan tulang
- menormalkan kadar gula darah
- Mendukung kelenjar tiroid sehat
- Meningkatkan kesehatan saraf
- Melindungi dari radikal bebas
- Membantu melindungi dari mual
- muntah Mengurangi
- Mengurangi ruam kulit
- Menjaga Warna rambut
- menormalkan kadar kolesterol
- Membantu mencegah pusing
- Membantu mencegah hilangnya pendengaran
- Mendukung reproduksi sehat

Karena manfaat singkong, singkong dijadikan makanan pokok di daerah-daerah tertentu di Indonesia. Namun mengenai penyakit konzo sendiri saya baru mendengar. Jadi, ingatlah singkong dimasak dengan benar dalam rangka untuk mendetoksifikasi ubi kayu sebelum memakannya.

ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk