'
Browsing articles from "December, 2011"

Bakteri Asam Laktat Untuk Terapi Autis

Dec 16, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  No Comments

Sudah sejak lama makanan dan minuman yang dihasilkan secara fermentasi dengan bakteri asam laktat menjadi bagian dalam menu makanan sehari-hari di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Bahkan, beberapa daerah di Indonesia, tanpa disadari, makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian dalam menu makanan keseharian masyarakat.

Beberapa contoh jenis makanan tersebut mungkin bukan saja sudah dikenal, tetapi malah sudah umum disantap. Sebut saja asinan dari Bogor, ikan bekasam dan tempoyak dari Sumatra dan Kalimantan, kimchi, acar, salami, bologna (daging), pindang makassar, budu, serta belacan atau terasi. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan. Ditambah yang sekarang baru populer adalah pembuatan mocaf atau tapika modifikasi sebagai pengganti terigu juga dibuat dengan jasa BAL ini.

Ada juga yang terbuat dari susu berupa yoghurt, keju, butter, kefir, dan susu asam. Sedangkan yang terbuat dari biji serealia seperti beras dan jagung adalah idli dari India, pui dari Hawaii, pulque dari Meksiko, dan chicha dari Brasil. Bisa disimpulkan, hampir di setiap tempat dan negara selalu ada jenis makanan dan minuman yang merupakan hasil fermentasi bakteri laktat.

Bakteri asam laktat (BAL)

BAL merupakan kelompok mikroorganisme yang berperan dalam banyak proses fermentasi pangan. BAL merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. Bakteri ini juga menempel pada jasad hidup lain seperti tanaman, hewan, serta manusia.

Pada tubuh manusia, sejumlah bakteri laktat ditemukan di usus, aliran darah, paru-paru, serta mulut. Bahkan, pada vagina yang merupakan organ reproduksi wanita ditemukan banyak sekali bakteri asam laktat. Beberapa spesies bakteri asam laktat adalah Bifidobacterium breve, Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium longum, Enterococcus faecalis, Lactobacillus brevis, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus casei, Lactobacillus fermentum, Lactobacillus helveticus, Lactobacillus plantarum, dan Streptcoccus thermophilus.

Kemampuan BAL dalam menghambat pertumbuhan mikroba lain merupakan salah satu alasan digunakannya bakteri ini sebagai agensia pengawet makanan. Dampak fermentasi BAL pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun hingga di bawah 5.0 sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri “jahat”, berupa bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman yang memang tidak mampu bertahan pada kondisi asam.

Bakteri jenis Lactobacillus umumnya menghasilkan laktobasilin, yaitu sejenis antibiotik alami yang berkemampuan menghambat, menonaktifkan, bahkan mematikan reaksi kimia yang dihasilkan oleh bakteri “jahat” yang masuk ke tubuh.

Selama proses fermentasi terhadap sayuran, daging, dan ikan, BAL tidak hanya menghasilkan asam laktat sebagai produk utama metabolisme, tetapi juga memproduksi bakteriosin dan laktobasilin yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak dikehendaki dalam makanan. BAL juga menghasilkan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan nilai organoleptik makanan dan minuman, termasuk rasa dan bau yang mengundang selera serta memperbaiki penampilan.

Terapi autis

Dalam usus kita terdapat berbagai jenis mikroba seperti bakteri dan jamur yang hidup berdampingan tanpa mengganggu kesehatan. Banyak riset telah membuktikan bahwa BAL bertahan hidup dalam saluran pencernaan setelah dikonsumsi. Bakteri ini tahan terhadap lisozim, enzim di air liur, pemecah dinding sel bakteri, asam, asam empedu, untuk sampai di usus dalam keadaan hidup. Ia mampu melekat pada sel epitel dan menjaga keharmonisan komposisi bakteri saluran pencernaan. Selanjutnya ia membantu mengatasi intoleransi terhadap laktosa, mencegah diare, sembelit, kanker, hipertensi, menurunkan kolesterol, menormalkan komposisi bakteri saluran pencernaan setelah pengobatan antibiotik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Jamur Candida albican adalah mikroba yang hidup dalam saluran cerna. Dalam keadaan normal tidak mengganggu kesehatan, tetapi jika keseimbangan dengan mikroorganisme lain terganggu, salah satu akan tumbuh berlebihan dan dapat menyebabkan penyakit. Pemberian antibiotika seperti amoxicillin, ampicillin, tetracycline, keflex yang terlalu sering akan menyebabkan bakteri “baik” (Lactobacillus) akan ikut terbunuh.

Sayangnya, antibiotik ini tidak membunuh jamur Candida, akibatnya jamur akan tumbuh subur dan dapat mengeluarkan racun yang melemahkan sistem imun tubuh sehingga mudah terjadi infeksi. Jamur yang tumbuh berlebih juga menempel pada dinding usus dan dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas usus atau usus berpori (leaky gut). Jamur juga menghalangi keluarnya enzim sehingga pencernaan terganggu. Kejadian demikian menurut William Show, Ph.D. (1995), seorang ahli autis dari Children`s Mercy Hospital dan Missourri University dapat memicu autis pada anak.

Terapi pada infeksi jamur antara lain pemberian obat anti jamur, seperti nystatin. Pemberian probiotik BAL seperti Lactobacillus acidophilus dapat mengimbangi dan mencegah infeksi jamur. Probiotik ini merupakan bakteri “baik” yang secara alami ada dalam yoghurt dan dapat memerangi jamur Candida.

Beberapa studi menunjukkan, anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu. Sebaiknya hindari mengonsumsi makanan yang mengandung gula, casein (protein susu), dan gluten (protein tepung). Gula dan karbohidrat sederhana lain dapat merangsang pertumbuhan jamur yang berlebihan. Casein dan gluten adalah jenis protein yang sulit dicerna sehingga dapat menimbulkan gangguan fungsi otak apabila mengonsumsi kedua jenis protein ini.

Penderita autis biasanya mengalami lactose intolerance (ketidakmampuan pencernaan untuk mencerna laktosa). Pemberian probiotik BAL dapat membantu mencerna laktosa sekaligus menyebabkan keseimbangan mikroflora dalam usus.

Demikianlah meskipun tubuh manusia “dihuni” oleh mikroba dengan rasio yang tepat, yaitu 85% dan 15% bagi bakteri menguntungkan, tetapi gaya hidup modern saat ini telah secara dramatis mengubah keseimbangan flora dalam tubuh kita. Bila tubuh manusia gagal mempertahankan jumlah yang memadai bagi bakteri menguntungkan, niscaya penyakit pasti akan bersarang.

Bakteri asam laktat , berbahaya ?

Dec 15, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Tapioka  //  No Comments

Seringkali mendengar kata “bakteri” pikiran kita tertuju kepada biang keladi penyakit. Bagaimana dg bakteri yang satu ini ? Kayaknya malah banyak manfaatnya, nih. Mari kita ikuti ulasan singkat tentang bakteri yg satu ini. Sumber bacaan dari wikipedia.

Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri gram-positif yang tidak membentuk spora dan dapat memfermentasikan karbohidrat untuk menghasilkan asam laktat.[1] Berdasarkan taksonomi, terdapat sekitar 20 genus bakteri yang termasuk BAL. Beberapa BAL yang sering digunakan dalam pengolahan pangan adalah Aerococcus, Bifidobacterium, Carnobacterium, Enterococcus, Lactobacillus, Lactococcus, Leuconostoc, Oenococcus, Pediococcus, Streptococcus, Tetragenococcus, Vagococcus, dan Weissella.[1] Contoh produk makanan yang dibuat menggunakan bantuan BAL adalah yogurt, keju, mentega, sour cream (susu asam), dan produk fermentasi lainnya.[2] Sekarang juga sedang berkembang penggunaan bakteri ini untuk fermentasi tapioka menjadi mocaf. Dalam pengolahan makanan, BAL dapat melindungi dari pencemaran bakteri patogen, meningkatkan nutrisi, dan berpotensi memberikan dampa positif bagi kesehatan manusia.

Karakteristik

Sebagian besar BAL dapat tumbuh sama baiknya di lingkungan yang memiliki dan tidak memiliki O2 (tidak sensitif terhadap O2), sehingga termasuk anaerob aerotoleran.[3] Bakteri yang tergolong dalam BAL memiliki beberapa karakteristik tertentu yang meliputi: tidak memiliki porfirin dan sitokrom, katalase negatif, tidak melakukan fosforilasi transpor elektron, dan hanya mendapatkan energi dari fosforilasi substrat.[3][1] Hampir semua BAL hanya memperoleh energi dari metabolisme gula sehingga habitat pertumbuhannya hanya terbatas pada lingkungan yang menyediakan cukup gula atau bisa disebut dengan lingkungan yang kaya nutrisi.[3] Kemampuan mereka untuk mengasilkan senyawa (biosintesis) juga terbatas dan kebutuhan nutrisi kompleks BAL meliputi asam amino, vitamin, purin, dan pirimidin.[3]

Berdasarkan studi genetika, beberapa sifat BAL yang berhubungan dengan fermentasi cenderung disandikan oleh gen-gen di [[plasmid]] (DNA ekstrakromosomal).[4] Sifat-sifat yang dimaksud meliputi produksi proteinase, metabolisme karbohidrat, transpor sitrat, produksi eksopolisakarida, produksi bakteriosin, dan resistensi terhadap bakteriofag.[4] DNA plasmid dapat ditransfer antarbakteri dengan beberapa mekanisme, seperti konjugasi yang umum terjadi pada Lactococcus sehingga sifat-sifat tersebut dapat menyebar.[4]

Contoh-contoh produk pangan menggunakan BAL

  • Keju
  • Mentega
  • Yogurt
  • Kimchi
  • Krim asam
  • Bir sorgum
  • Kecap
  • Sosis
  • Wine
  • Kefir (susu fermentasi dari daerah Kaukasus)
  • Kumiss (hasil fermentasi susu kuda)
  • Acar
  • Sauerkraut (hasil fermentasi kubis dengan BAL yang berasal dari Jerman)
  • Tarhana (makanan kering hasil fermentasi gandum atau padi-padian dengan susu fermentasi)
  • Fermentasi buah dan daun, seperti mangga, daun mustar (buah sawi), daun pechay[5]
  • Mocaf (modifikasi tepung singkong)
  • dan lain-lain.

Negara Penghasil Singkong

Dec 14, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Singkong  //  No Comments

Negara Penghasil Singkong Dunia. Pemanfaatan singkong yang lebih dominan sebagai bahan baku tapioka .

isi Negara Banyaknya
Ton
1  Niger 44.582.000
2  Somalia 38.442.000
3  Thailand 27.565.636
4  Brasil 25.877.918
5  Indonesia 21.593.052
6  Republik Demokratik Kongo 15.019.430
7  Ghana 9.650.000*
8  Vietnam 9.395.800
9  India 9.053.900
10  Angola 8.840.000*
11  Tanzania 6.600.000*
12  Uganda 5.072.000
13  Mozambik 5.038.623*
14  Paraguay 4.800.000*
15  Republik Rakyat Cina 4.361.573*
16  Kamboja 3.676.232
Sedunia 232.950.180

Kandungan Gizi Singkong

Dec 13, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Singkong  //  No Comments

Kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi:

  • Kalori                        121 kal
  • Air                              62,50 gram
  • Fosfor                       40,00 gram
  • Karbohidrat           34,00 gram
  • Kalsium                   33,00 miligram
  • Vitamin C                  0,00 miligram
  • Protein                        1,20 gram
  • Besi                              0,70 miligram
  • Lemak                        0,30 gram
  • Vitamin B1               0,01 miligram

Singkong lebih banyak dimanfaat dalam bentuk  tapioka .

 

sumber : Wikipedia.org

Mie Instan dari Bahan Singkong , Siapa Takut ?

Dec 3, 2011   //   by   //   Artikel Indonesia, Cassava, Ketela, Singkong  //  No Comments
Mie Instan dari SingkongJAKARTA - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali menemukan inovasi produk makanan modern siap saji bernama Mo Mie.

Makanan ini juga dimaksudkan dalam rangka diversifikasi pangan. Apa itu Mo Mie? Mo Mie merupakan mi instan yang berbahan baku tepung singkong termodifikasi atau Modified Cassava Flour (MOCAF) dan tepung tempe.

Pemilihan singkong sebagai bahan baku pembuatan Mo Mie ini cukup beralasan. Mengingat singkong adalah salah satu tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia sebagai sumber karbohidrat, yang produksinya belum optimal karena masih dinilai kurang ekonomis. Read more >>

ej8vrUyxH6G8xZr4fume7AWjyFGXyNK9x6POCYAQ7qk